Senin, 26 September 2011

Nasi Minyak Kari di Malam Jumat

TIKAR dari bahan terpal warna hitam terlihat tergelar di sayap kanan bagian dalam Masjid Raya Magat Sari, Kawasan Pasar Jambi. Terpal itu membentuk satu jalur memanjang yang melintang di atas lantai berkarpet biru tua gelap bergaris-garis kuning.

Dua orang pria paro baya secara bergantian hilir mudik di area bertikar terpal. Mereka menaruh air mineral kemasan gelas di bagian tepian kiri-kanan tikar tersebut. Seorang pria berusia bercelana hitam, berbaju koko putih, serta berpeci putih berdiri mengawasi dua orang tadi dan apa yang mereka lakukan dari jarak sekitar empat langkah. Ia merupakan Haji Abubakar Ahmad, Sekretaris Pengurus Masjid. Sore itu, mereka merupakan bagian dari pihak pengurus masjid yang memersiapkan hidangan buka puasa bersama.

Hari ketika saya berdiri dan mengamati dari satu sudut Masjid Raya Magat Sari itu adalah Kamis, 4 Agustus 2011 sekitar pukul 17.30. Bulan puasa tahun 1432 Hijriyah memang masih sangat muda saat itu, usianya belum sampai sepekan.

Setelah sekitar lima menit mengamati, saya lantas berjalan mendekati Haji Abubakar. Setelah menyapanya dan tentu saja memerkenalkan dri, saya mengajaknya berbincang, lebih tepatnya menanyainya tentang kesibukan di masjid sore itu.

Abubakar menjawab pertanyaan demi pertanyaan dengan beberapa kali jeda. Ia melakukannya untuk sesekali mengarahkan sejumlah pengurus masjid. Katanya, di antara tradisi rutin membagi takjil buka sepanjang Ramadan, setiap Kamis petang Masjid Magat Sari menambahkan acara bersantap bersama hidangan yang tergolong berat. Jika pada hari Jumat sampai dengan Rabu, mereka yang melewati waktu sekitar Maghrib di masjid itu hanya akan disuguh takjil pembatal puasa berupa kue dan korma, juga pilihan minuman minuman berupa air minal kemasan kap, kopi hitam, dan sirup. Nah pada Kamis petang atau yang oleh lidah Melayu lazim pula disebut sebagai Malam Jumat,menu yang disediakan pihak Pengurus Masjid Raya Magat Sari adalah nasi minyak berlauk kari. Di samping itu, minuman kopi pun bersalin rupa menjadi kopi susu, sedangkan sirup tetap tersedia.

Baki Seng
Nasi minyak kari tersebut dihidangkan dalam wadah baki-baki persegi dari seng. Nasi minyak yang kecoklatan ditaruh di cekungan bundar di bagian tengah baki. Cekungan-cekungan lain di bagian pinggir baki diisi dengan kari bercampur terung sebagai lauk, sayur, juga buah sebagai pencuci mulut.

"Kari untuk nasi minyaknya terkadang kari daging, terkadang pula kari kambing," ucap Abubakar. Nasi minyak kari tersebut dinikmati sesudah sholat maghrib berjamaah, yang sebelumnya didahului pula dengan membatalkan puasa dengan air putih serta takjil korma plus kue seperti pada hari Jumat sampai Rabu.

Tradisi bersantap nasi minyak kari saat buka puasa hari Kamis tersebut telah berusia puluhan tahun. Seingat Abubakar yang terlahir tahun 1953, ia sejak masih kanak-kanak telah melihat tradisi berbuka puasa semacam ini.

"Kalau ditanya dari kapan tradisi berbuka semacam ini tadi pertama kali ada ya dari masjid ini berdiri. Tahun 1930-an seperti sudah ada, tapi yang pasti saya ketika kecil sudah melihatnya rutin berjalan," ujar pria yang tinggal di daerah Simpang Pulai, Kota Jambi tersebut. Jelasnya, tradisi ini berjalan dengan dilatarbelakangi keinginan pihak pengurus masjid membantu mereka mesti menjalani puasa sebagai musafir alias sedang bepergian jauh dari rumah.

Menurut Abubakar, rangkaian acara berbuka puasa di Masjid Raya Magat Sari, baik yang berlangsung antara Jumat hingga Rabu maupun pada Kamis didanai oleh bantuan sumbangan berbagai pihak, khususnya selama Ramadan.

Hingga 200 Porsi
Jumlah porsi nasi minyak yang diisediakan pihak pengurus masjid untuk buka puasa setiap Kamis petang biasanya bakal cenderung meningkat dari pekan ke pekan. Itu adalah pula seiring bertambahnya jumlah orang yang berbuka puasa di Masjid Raya Magat Sari. Jika pada pekan pertama Ramadhan, pihak pengurus masjid menyediakan 70 porsi nasi minyak, maka pekan-pekan selanjutnya akan bertambah menjadi 80 porsi, 100 porsi atau bahkan 200 porsi.

Jika dihitung dalam ukuran bobot beras, maka beras yang dibutuhkan untuk memasak nasi minyak setiap pekannya adalah sekitar 10 kilogram pada pekan pertama, kemudian berangsur- angsur bertambah menjadi sekitar 30 kilogram pada pekan terakhir.

Untuk menyiapkan hidangan berbuka itu, dulunya kegiatan masak memasak memang dikerjakan di lingkungan Masjid Raya Magat Sari. Namun, sejak 1970-an pola masak hidangan buka puasa di lingkungan masjid kemudian ditinggalkan. Menurut Abubakar, hal itu sebagai konsekuensi dari membesarnya bangunan masjid di satu sisi, yang berimbas pada menciutnya luas halaman sebagai area memasak.

Awalnya kegiatan menanak nasi masih dilakukan di halaman masjid. Kegiatan memasak yang dipindahkankan ke rumah pengurus masjid adalah urusan mengolah lauk kari dan sayur. Namun, sejak empat tahun terakhir, dua kegiatan tadi dipusatkan di dapur rumah Abubakar.

Kini, yang masih dikerjakan di lingkungan masjid cuma memasak air dan meracik kopi untuk minuman sehabis buka. Kamis sore itu, mereka yang sedang bertugas meracik kopi adalah M Tabroni, Asep, serta Fahmi

Sejak empat tahun terakhir, Abubakar dan para pengurusa masjid memerbaiki penyajian nasi minyak kari itu. Jika dulu sebaki nasi minyak biasa disantap oleh sekitar dua orang sekaligus, sekarang sebaki merupakan jatah bagi satu orang saja. Dengan demikian acara bersantap pun dapat terlihat lebih rapi. Toh, jika ada orang yang tak kebagian jatah nasi minyak, masih ada nasi-nasi bungkus sumbangan dari jamaah masjid.

Petang itu, selepas magrib datang, saya pun turut bersantap bersama para jamaah Masjid Raya Magat Sari. Sayangnya, saya tak kebagian menu nasi minyak kari kambing. Saya cuma beroleh jatah nasi bungkus berlauk ayang goreng. Tapi, tak apa, saya mesti tahu diri karena toh tidak berpuasa. (yoseph kelik)

*Pernah dimuat di Tribun Jambi pada Minggu, 7 Agustus 2011
*Foto oleh Hanif Burhani


Artikel Berkaitan




Tidak ada komentar:

Posting Komentar