Tampilkan postingan dengan label jambi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label jambi. Tampilkan semua postingan

Rabu, 31 Juli 2013

Dari Jambi ke Sumatera Barat pada Peralihan November ke Desember

(Sambungan dari tulisan Pinjaman Mobil Sekaligus Pemiliknya sekaligus bagian II tulisan-tulisan catatan perjalanan ke Sumatera Barat dan Sumatera Utara)


Oleh Yoseph Kelik


MOBIL Innova silver milik Pak Jarwadi yang membawa rombongan pelesir ke Sumatera Barat

JUMAT sore, 30 November 2012, adalah waktu keberangkatan bagi rombongan kami, rombongan pelesir yang hendak menonton Pacu Jawi ke Sumatera Barat . Titik kumpul adalah adalah rumah Pak Jarwadi di daerah Bagan Pete di pinggiran Kota Jambi. Saya, Wahyu, serta Wahid sampai di rumah mertua Hanif, kawan sekantor kami, tersebut sekitar pukul 16.30.

Tak seberapa lama setelah sampai, Hanif, saya, Wahyu, juga Wahid, menata tas-tas bawaan di barisan kursi balik belakang mobil Kijang Innova silver yang bakal mengangkut kami ke Sumatera Barat.

Pinjaman Mobil Sekaligus Pemiliknya

(Bagian Pembuka dari tulisan-tulisan cerita perjalanan ke Sumatera Barat dan Sumatera Utara)

Oleh Yoseph Kelik


DARI kiri ke kanan: saya (Yoseph Kelik), Hanif, Wahid, dan Wahyu

TULISAN ini sebenarnya sangat telat saya kerjakan. Seharusnya saya sudah menuliskannya sekitar tujuh bulan silam. Soalnya, ini adalah satu cerita tentang perjalanan semacam tamasya dari Jambi ke Sumatera Barat, yang telah berlangsung pada penghujung 30 November -2 Desember 2012. Namun, dengan berpedoman kepada ungkapan populer “lebih baik telat dari pada tidak sama sekali”, akhirnya saya bikin juga catatan cerita perjalanan tersebut.

Perjalanan ke Sumatera Barat tersebut muncul dari ide rekan sekantor saya kala itu, Hanif. Suatu hari, di antara tanggal-tanggal yang dipunyai bulan Oktober 2012, dia berbagi info tentang adanya event Pacu Jawi,

Jumat, 14 Desember 2012

Toko Kopi Ahok: Tempat Menemukan Semangat Pagi di Pojok Simpang Jelutung

Oleh Yoseph Kelik

TOKO Kopi Ahok di Simpang Jelutung, Kota Jambi (foto oleh Hanif Burhani)
SARAPAN yang menyenangkan konon dapat menjadi awal bagi hari yang menyenangkan pula. Sepiring menu dengan isi sedang, cukup bisa mengganjal perut, tapi juga tak sampai bikin kekenyangan, serta secangkir kopi susu hangat, boleh jadi adalah contoh kombinasi menu yang pas.

Di antara sekian tempat makan penyedia sarapan di Kota Jambi, Toko Kopi Ahok di pojok Simpang Empat Jelutung boleh jadi spot oke untuk menemukan pilihan menu semacam itu. Untuk menu utama sarapan, sepiring mie celor di sana jadi contoh menu yang saya rekomendasikan. Kuahnya kental segar dan tentu saja gurih. Potongan daging dipotong dadu yang ditaburkan di atas gundukan mienya pun menurut saya sedikit lebih besar ketimbang di beberapa menu serupa di tempat makan yang lain.


Jumat, 30 November 2012

Menyelundupkan Sepeda ke Dalam Kereta


Oleh Yoseph Kelik
KERETA api Prameks (foto diambil dari republika.co.id)

"LAIN kali nggak boleh ini, Mas. Ini hanya untuk penumpang, bukan angkutan barang."

Kata-kata hardikan ini meluncur dari bibir seorang petugas Polsuska berkumis melintang. Nadanya cukup tajam. Tertuju kepada saya yang memilih memasang tampang bloon.

Hardikan si petugas polsuska itu sendiri bukannya tanpa sebab. Sabtu sore di pertengahan April 2009, di dalam Kereta Api Prameks Jogja-Solo, tempat si bapak berkumis melintang itu berdinas, saya memang melalukan sebuah "kenakalan kecil".

Bukan, bukan mencopet atau kedapatan nggak beli karcis.

Jumat, 09 November 2012

Jelajah Seafood di Kuala Tungkal


Oleh Yoseph Kelik


PARI bakar
KUALA Tungkal si ibukota Kabupaten Tanjung Jabung Barat (Tanjabbar) boleh jadi sebuah kota yang kecil saja ukurannya. Penduduknya total sekitar 50 ribu orang saja. Berkeliling setiap sudut dan ujungnya pun mungkin cukup dikhatamkam dalam waktu sejam atau sejam setengah.

Namun, kota yang berjarak sekitar 130 kilometer arah timur laut Kota Jambi ini sebenarnya memiliki  spot-spot kuliner menarik. Itu  terlebih lagi dalam soal hidangan laut alias seafood. Maklumlah, kota ini terletak di muara Sungai Pengabuan dan tergolong pula kota pelabuhan

Sepuluh hari lamanya di tengah Oktober 2012, dari tanggal 12 siang sampai dengan tanggal 21 malam, saya sempat berada di kota bandar kecil di pantai timur Sumatera ini. Saya berada di kota yang bisa dijangkau dengan perjalanan mobil selama sekitar tiga jam dari Kota Jambi itu dalam rangka penugasan dari kantor tempat saya bekerja.

Selama di sana, saya tentu saja meluangkan waktu menyambangi tempat-tempat makan penyedia olahan seafood. Mumpung kan... Itu antara lain saya sempatkan bersama sejumlah rekan pada Jumat malam, 12 Oktober, juga pada tiga hari terakhir mulai Jumat siang, 19 Oktober  sampai dengan Minggu sore, 21 Oktober. Tercatat sekitar lima spot kuliner yang saya sambangi ketika itu. Aneka hidangan dari mulai kerang tumis, cumi asam pedas, ikan senangin goreng, hingga ikan pari bakar sempat saya jajal ketika itu.

Minggu, 04 November 2012

Agar Sungguh Jadi Tempat Mencerdaskan dan Mencerahkan

Oleh Yoseph Kelik



Siswi dari Amrik
SAAT itu bulan Mei 2011, jelang masa Ujian Nasional (UN). Seorang kawan sekantor meliput di SMP Negeri 1 Jambi, sebuah SMP favorit di Kota Jambi. Selain mewancarai kepala sekolah dan beberapa guru, mengumpulkan cerita tentang persiapan yang dilakukan SMP tersebut guna menghadapi UN sang penentu kelulusan para murid kelas IX.

Lalu, kawan itu ternyata menemukan satu di antara ratusan murid SMP Negeri 1 Jambi yang ternyata berkewarganegaraan Amerika Serikat, lahir dan memang besar di negara paman Sam itu.

Selasa, 18 September 2012

Banjir Soft Drink Impor Negeri Jiran Kala Lebaran

Oleh Yoseph Kelik

NARAYA Cola
INGAT lagu Bang Toyib, yang diceritakan pergi tak pulang ke rumah selama tiga kali Lebaran? Nah, kalau dihitung dari soal Lebaran dan tradisi mudik ke kampung halaman yang menyertainya, saya sepertinya termasuk golongan "Bang Toyib". Soalnya, saya selama hampir tiga tahun bekerja dan tingggal di Jambi ini tak pernah pulang kampung ke Wonogiri pada saat Lebaran.

Hanya saja, jika Bang Toyib disebutkan dalam lagu tak pernah pulang, saya senyatanya dalam kurun hampir tiga tahun itu sempat pulang kampung sebanyak tiga kali. Hanya saja, saya memang  selalu mengambil cuti pulang kampung di luar masa hari raya, baik itu Lebaran maupun Natal dan Tahun Baru. Itu semua demi mendapatkan tiket pesawat yang lebih terjangkau isi kantong. Dari tiga kali saya mengambil cuti untuk mudik, dua kali di antaranya  justru memilih hari pada seputaran pertengah Februari sampai dengan awal Maret. Cuma cuti II 2012 ini, yang saya ambil antara 4-11 September, terhitung masih berdekatan dengan Lebaran. Itu pun jarak dengan hari Lebarannya sudah dua pekan. Jadi, saya baru mulai mudik ketika sebagian besar orang di Indonesia sudah rampung berarus balik.

Minggu, 29 Juli 2012

Tren Foto Levitasi Merambah Jambi


Oleh Yoseph Kelik

SIGE Auregia berpose membaca buku dalam posisi seakan melayang dalam foto levitasi karya pegiat JDCC, Digdoyo Putro

TREN foto levitasi, yakni foto yang menampilkan keberadaan sosok yang seakan melayang atau terbang di udara, mulai merambah Kota Jambi. Foto-foto levitasi sendiri menjadi tren sejak muncul di Jepang akhir 2010, kemudian menyusul populer di Indonesia, antara lain di Jakarta sejak sekitar medio 2011. Sejak awal tahun 2012 akhirnya mulai ada penghobi fotografi di Kota Jambi yang menekuni pembuatan foto-foto semacam itu.

Contoh dari para penghobi fotografi yang mulai gemar menghasilkan karya levitasi adalah antara lain Digdoyo Putro, Riko Mappedeceng, dan Sulhan Iskandar. Ketiganya kebetulan merupakan sejawat sesama pegiat di komunitas fotografi  Jambi Digital Camera Club (JDCC). Namun, tiga pria itu merintis jalan dan proses mereka masing-masing dalam berlevitasi ria.

Kamis, 26 Juli 2012

Selama Operasi Andi Tetap Terjaga


Oleh Yoseph Kelik
OPERASI Awake Craniotomy di RSUD Raden Mattaher Jambi pada Rabu, 25 Juli 2012
(Foto dari jambi.tribunnews.com oleh Fotografer Tribun Jambi, Hanif Burhani)

INSTALASI Bedah Sentral Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Raden Mattaher Kota Jambi terlihat nian sibuknya pada Rabu (25/7) siang itu. Ruang-ruang operasi di dalamnya tampak berisikan aktivitas para tenaga medis berbalut setelan-setelan baju steril warna hijau ataupun biru muda. Biarpun tengah hari itu, juga dalam sebulanan ini, banyak dari mereka tak sedang beroleh berlimpah asupan makanan dan minuman sebagai sumber tenaga dan konsentrasi. Maklum, hari- hari puasa Ramadan berlaku pula di antara para punggawa medis di sana.

Ruang OK1
Bagi saya, itu sungguh mengingatkan kepada adegan-adegan dalam ER, serial televisi dari kanal televisi NBC dari  Amerika Serikat, yang tayang dari 1994 sampai dengan 2009, pula memoncerkan nama aktor George Clooney. Namun, pada Rabu itu, Ruang OK1 Instalasi Bedah Sentral RSUD Raden Mattaher memberikan cerita yang tak kalah menakjubkan ketimbang episode-episode ER

Di tengah Ruang OK 1, di atas sebuah ranjang operasi, ada seorang pria berusia 28 tahun terbaring telentang.

Rabu, 04 Juli 2012

Chef Jelita Pulang Kampung



Oleh Yoseph Kelik dan Wahid Nurdin
FARAH Quinn beberapa saat sebelum memulai demo masak dalam acara Sparkling Day di Citraland NGK Jambi  




LAKI-LAKI maupun perempuan, tua-muda hingga bocah kecil, menyemut di Lokasi Proyek Citraland NGK Jambi. Demikianlah pemandangan di calon "kota kecil" di daerah Mayang tersebut pada Minggu (1/7) mulai dari pagi sekitar pukul 09.00.

Ratusan orang itu  adalah para pengunjung serta peserta lomba-lomba dalam helatan event Sparkling Day . Anak-anak mengikuti lomba mewarnai maupun bermain di kastil lenting. Para ibu dan para gadis mengikuti lomba memasak. Contohnya adalah pasangan dua sekawan Anggun (19) dan Thamyla (20) yang meracik masakan Cumi Asam Manis  serta Crepes Durian.  Lalu, para bapak dan para anak muda seperti Riko Mappedeceng (30) serta M Rasyid Ridho (17) yang mengikuti kontes foto arsitektur. Orang-orang selebihnya yang tak turut berlomba wira wiri melihat pameran perumahan, menengok kumpulan rumah contoh yang telah dibangun, menjajal aneka makanan-minuman yang disediakan pantia acara, juga tak ketinggalan menikmati suguhan musik live yang dimainkan Tia, Toto, Iqbal, serta Haris dari panggung di tengah komplek perumahan.

Namun, tak bisa disangkal pesona yang membuat ratusaan orang itu mengumpul dan terus bertahan di Citraland NGK, tak memedulikan paparan terik matahari, adalah asa untuk dapat menyaksikan secara langsung sosok Farah Quinn.

Selasa, 26 Juni 2012

Ketika Rainbow Cake Jadi Keik Sejuta Umat...


(Hasil Penggabungan Plus Pengembangan dari 5 Tulisan yang Dimuat di Halaman 9 dan 10 Harian Pagi Tribun Jambi edisi Minggu, 24 Juni 2012)


Oleh Yoseph Kelik
RAINBOW Cake (foto dari www.az-cakes.com)


NAMANYA indah dibaca, elok pula terdengar telinga. Wujudnya pun berlapis-lapis dengan lima sampai enam macam warna, teramat menggoda mata. Itulah rainbow cake alias keik pelangi, sejenis kue anyar yang dalam waktu singkat mampu menjangkitkan euforia mengudap kepada para penghuni berbagai kota di Indonesia.

Ini kurang lebih mirip dengan yang pernah terjadi ketika brownis kukus muncul dan sangat digilai orang beberapa tahun lalu.  Malah, agaknya jauh melebih antusiasme orang kepada klapertaart serta cupcake kala sedang naik daun beberapa waktu silam.

Senin, 28 Mei 2012

Cerita tentang Batik Kuno dari Nurlaini


Oleh Yoseph Kelik
BATIK kapal kompeni tergelar di atas lembaran batik patolah Jambi di
Ruang Tekstil Storage Museum Negeri Jambi (foto oleh Hanif Burhani) 

NURLAINI sang Kepala Seksi Pengelolaan Koleksi Museum Negeri Jambi membuka sebuah laci kabinet di sudut ruang kerjanya. Ia lalu memilih satu renceng anak kunci dari sekian renceng yang ada di dalam laci kabinet tadi.

Lalu, ia mengajak saya, rekan saya fotografer Hanif Burhani, juga Amalia Siregar sang Juara 3 Duta Batik Jambi 2012, untuk berjalan keluar. Kami pun lantas mengekor sosok yang pada Kamis pagi, 29 Maret  2012 itu mengenakan setelan batik warna hijau tersebut. Sepuluh langkah berbelok ke kiri dari ruangannya, Nurlaini berhenti dan menyorongkan anak kunci ke lubang kunci yang ada di pintu di depannya.

"Ini namanya ruang tekstil," ucap wanita paro baya yang lahir dan besar di Sumatera Barat tersebut.

Jumat, 25 Mei 2012

Punya Relief Sejarah Paling Detail di Jambi

(Tulisan tentang Monumen Tentara Pelajar Sriwijaya)



Oleh Yoseph Kelik

MONUMEN TP Sriwijaya di Simpang Sado, Kawasan Pasar, Kota Jambi (foto dari http://jambi.tribunnews.com/2012/05/24/sejenak-menengok-monumen-tentara-pelajar-sriwijaya-berita-foto)

MONUMEN Pelajar Pejuang Tentara Pelajar Sriwijaya demikianlah nama lengkap komplek taman dan monumen seluas 810 meter persegi ini. Warga Kota Jambi yang biasa berkendara maupun berjalan kaki di seputaran Kawasan Pasar tentunya pernah melintas dan melihat monumen tersebut. Pasalnya, lokasi monumen ini ada di tengah Simpang Sado, pertemuan antara Jalan dr Sutomo dan Jalan dr Wahidin. Dengan begitu, si monumen sebenarnya ada di satu jalur lingkar utama Kawasan Pasar.

Minggu, 20 Mei 2012

Butuh Dua Setengah Bulan Membersihkannya

(Tulisan tentang Kanal Kuno Percandian Muara Jambi)


Oleh Yoseph Kelik


DANAU Kelari, bagian dari sistem kanal kuno Percandian
Muara Jambi, pada sisinya yang belum dibersihkan dari enceng
gondok
KANAL menurut situs enskliopedia online Wikipedia berarti saluran air buatan manusia. Bisa sekadar saluran untuk mengalirkan air, bisa juga yang berupa jalur transportasi air alias tempat hilir mudik perahu, rakit, tongkang, hingga kapal.

Sistem pengelolaan air semacam itu sebenarnya sudah menjadi sesuatu yang diakrabi warga Kepulauan Nusantara sejak belasan abad silam. Bukan sesuatu yang cuma ada di Venesia di pesisir Adriatik, jauh di Eropa sana. Keakraban warga kepulauan ini di masa lalu dengan sistem kanal antara lain dapat dilihat di Trowulan (bekas ibukota Majapahit) di Jawa Timur,  di Batujaya  (dipercaya sebagai peninggalan Tarumanagara dari abad IV-VII Masehi)  di Jawa Barat, juga Percandian Muara Jambi di Jambi yang merupakan peninggalan Kerajaan Melayu Kuno dari abad VIII-XI.

Kanal-kanal Muara Jambi sempat terabaikan selama berabad lamanya Endapan banjir dan pasang surut Sungai Batanghari, juga suburnya pepohonan-semak-ilalang, saling berkomplot menyamarkannya dari pandangan mata maupun ingatan. Tak jauh berbeda sebagaimana juga yang terjadi pada bangunan candi-candinya.

Kamis, 22 Maret 2012

Ternyata Terinfeksi Black Swan


Oleh Yoseph Kelik


FOTO dari gramediashop.com
SAYA punya buku tulisannya Nassim Nicholas Taleb, The Black Swan. Saya membelinya sekitar 2,5 tahun lalu di Bandung, cuma sehari sebelum diberangkatkan bertugas ke Jambi. Seingat saya, buku itu saya beli di Toko Buku Gramedia Bandung Super Mall alias BSM. Waktu itu, Gramedia di BSM lagi ulang tahun dan ada promo diskon gede untuk buku-buku di sana.

The Black Swan itu buku dengan 400 sekian halaman. Dua tahun lebih memilikinya ternyata nggak sampai setengahnya yang kelar terbaca. Kalau diinget-inget, saya berjuang membaca The Black Swan itu selama sekitar dua bulan, kurang lebih setengah tahun jaraknya sehabis beli. Saya sebut berjuang membaca karena saya memang sungguh keteteran untuk membacanya. Haduuuh..., sungguh enakan baca komik-komik Tintin-nya Herge atau baca travelogue The Naked Traveler jilid 1-3 tulisannya Trinity. He...he...he... maaf sekali Mr Nassim Nicholas Taleb kalau saya mengomparasikan The Black Swan anda dengan buku-buku yang sebenarnya berbeda kelas... .

Kamis, 01 Maret 2012

Karena Sampai Tengah Malam dan Mudah Parkirnya


Oleh Yoseph Kelik


EKS Bioskop Murni (foto diambil dari dari koleks akun Bentang Waktu di situ panoramio.com)


SEINGAT wartawan senior Thomas P Sirait (71), kawasan Murni sepanjang jalan Sultan Agung, Kota Jambi, tepatnya di seputaran Sentral Yamaha Sabang Raya Motor dan Studio RRI Pro 2 FM, telah berkembang menjadi sebuah area konstrasi tempat makan sejak medio 1976. Awalnya perkembangannya banyak didorong oleh keberadaan Bioskop Murni, yang telah tutup pada awal 2000-an dan kini berganti fungsi menjadi toko mebel Murni Baru alias Cikindo. Thomas menceritakan hal ini lewat perbincangan telepon dengan saya pada Sabtu sore, 29 Oktober 2011 lalu.

Rabu, 29 Februari 2012

Ayo Dong Ada Penerbangan Langsung Jambi-Medan...

Oleh Yoseph Kelik

PETA Sumatera (diambil dari jakartastreetatlas.com)
AWAL tahun ini, saya sempat berniat mengambil cuti pada sekitar tanggal 25-31 Januari 2012. Sempat berniat cuti pada 7 hari terakhir Januari tersebut karena semula saya pengen pergi ke Medan. Soalnya tanggal 26 dan 27 Januari ada acara keluarga di sana, tepatnya khitanan seorang sepupu. Apa lagi, Bapak, Ibu, dan Adik dari Wonogiri, juga Om dari Jakarta datang menghadiri acara itu. Jadi ke Medan itu maksudnya untuk "dapet tiga nyamuk dalam sekali tepuk": ya menghadiri khitanan sepupu, ya ketemu keluarga dari Jawa, ya tentu saja jalan-jalan he...he...he... .

Selasa, 28 Februari 2012

Tiada Pejabat di Antara 1.500 Tanda Tangan

Oleh Yoseph Kelik

AKSI Solidaritas Damai untuk Selamatkan Kawasan Percandian Muara Jambi, di Bundaran Air Mancur Telanaipura, 26 Februari 2012   


KATA para ahli ini tempat sejarah abadi
Puluhan abad silam di sini berkumpul para 'syufi'
Belajar agama mendekatkan diri pada yang Hakiki
Sekolah besar yang kini orang sebut Candi Muara Jambi
...

Rangkaian kata-kata ini merupakan penggalan puisi milik Bahren Nurdin. Bahren membacakannya pada Minggu pagi, 26 Februari 2012, di Bundaran Air Mancur Telanaipura. Saat itu, di lokasi di depan Komplek Kantor Gubernur Jambi berlangsung  Aksi Solidaritas Damai untuk Selamatkan Kawasan Percandian Muara Jambi yang  dikoordinasi oleh Svarnadwipa Institute. Tepat di bawah tatapan mata patung Sultan Thaha, likuran orang pegiat Jambi sejak pukul 06.00 memainkan musik, membacakan puisi, berorasi budaya, melakukan pentas teaterikal, juga membagikan selebaran tentang penyelamatan Candi Muara Jambi.

Senin, 13 Februari 2012

12 Februari Itu Hari Bersepeda Sekota Jambi

Oleh Yoseph Kelik

EVOLUSI (gambar diambil dari stickergiant.com)
TANGGAL 14 Februari dari dulu dikenal sebagai tanggalnya Valentine Day. Boleh jadi, 12 Februari mulai pantas dipikirkan untuk digelari sebagai hari bersepeda. Paling  tidak hari bersepeda sekota Jambi lah... . Pasalnya, pada Minggu, 12 Februari 2012, terutama dari pagi dan siangnya, saya mendapati jalanan kota Jambi, khususnya lagi kawasan Telanaipura, ramai oleh kegiatan bersepeda.

Kamis, 26 Januari 2012

Halma dan Mancala Jarang Dibeli, Scrabble Masih Diminati

Oleh Yoseph Kelik

ANEKA permainan papan. (Foto oleh Hanif Burhani, dimuat di halaman 12 Harian Pagi Tribun Jambi pada Minggu, 22 Januari 2012)
 
POINT Blank, Ragnarok Online, Texas Hold'Em Poker, Mafia Wars, Farm Ville, Angry Birds... Semua yang baru saja saya sebutkan tadi rasanya bukan hal yang asing bagi anda, lebih lagi yang tergolong kawula muda. Malah, saya yakin bahwa banyak dari anda mengakrabi nama-nama tadi, pula menjadikan mereka bagian dari keseharian.

Permainan elektronik, itulah penggolongan yang umum dikenal untuk menyebut si Point Blank dan kawan-kawannya tadi. Ada lagi satu penyebut alternatif, yang tentulah lebih anda kenal dekat, yakni game alias gim. Sekarang ini memang sedang trennnya gim-gim elektronik semacam itu. Lebih lagi gim yang bersifat multipemain, yang ditandingkan secara online melalui jaringan internet.

Popularitas gim-gim semacam itu berkembang sejak era konsol semacam Nintendo dengan gim Donkey Kong dan Super Mario Bros. Terus berlanjut bersama kehadiran konsol PlayStation serta X-Box. Gelombang selanjutnya terjadi seiring meluasnya kepemilikan dan penggunaan laptop dan netbook, yang diikuti pula perluasan cakupan layanan seluler, plus kian mudahnya menemukan area ber-wi-fi, pula merebaknya situs jejaring sosial. Lalu, kian melonjak lagi begitu orang-orang mulai banyak memiliki ponsel-ponsel cerdas dan kemudian juga komputer tablet.

Catur Masih Sering
Sebelum aneka gim elektronik merajelala, ada aneka permainan konvensional yang telah jauh lebih dulu eksis dan jadi pengisi waktu bagi kawan-sekawan maupun keluarga. Contohnya adalah macam- macam permainan papan, yakni permainan dengan menggerakan sejumlah bidak di atas sebidang papan permainan. Pergerakan bidak-bidak tadi ada yang ditentukan melalui kocokan dadu, ada pula yang tidak, tergantung jenis permainannya.