Tampilkan postingan dengan label bandung. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label bandung. Tampilkan semua postingan

Selasa, 26 Juni 2012

Ketika Rainbow Cake Jadi Keik Sejuta Umat...


(Hasil Penggabungan Plus Pengembangan dari 5 Tulisan yang Dimuat di Halaman 9 dan 10 Harian Pagi Tribun Jambi edisi Minggu, 24 Juni 2012)


Oleh Yoseph Kelik
RAINBOW Cake (foto dari www.az-cakes.com)


NAMANYA indah dibaca, elok pula terdengar telinga. Wujudnya pun berlapis-lapis dengan lima sampai enam macam warna, teramat menggoda mata. Itulah rainbow cake alias keik pelangi, sejenis kue anyar yang dalam waktu singkat mampu menjangkitkan euforia mengudap kepada para penghuni berbagai kota di Indonesia.

Ini kurang lebih mirip dengan yang pernah terjadi ketika brownis kukus muncul dan sangat digilai orang beberapa tahun lalu.  Malah, agaknya jauh melebih antusiasme orang kepada klapertaart serta cupcake kala sedang naik daun beberapa waktu silam.

Kamis, 22 Maret 2012

Ternyata Terinfeksi Black Swan


Oleh Yoseph Kelik


FOTO dari gramediashop.com
SAYA punya buku tulisannya Nassim Nicholas Taleb, The Black Swan. Saya membelinya sekitar 2,5 tahun lalu di Bandung, cuma sehari sebelum diberangkatkan bertugas ke Jambi. Seingat saya, buku itu saya beli di Toko Buku Gramedia Bandung Super Mall alias BSM. Waktu itu, Gramedia di BSM lagi ulang tahun dan ada promo diskon gede untuk buku-buku di sana.

The Black Swan itu buku dengan 400 sekian halaman. Dua tahun lebih memilikinya ternyata nggak sampai setengahnya yang kelar terbaca. Kalau diinget-inget, saya berjuang membaca The Black Swan itu selama sekitar dua bulan, kurang lebih setengah tahun jaraknya sehabis beli. Saya sebut berjuang membaca karena saya memang sungguh keteteran untuk membacanya. Haduuuh..., sungguh enakan baca komik-komik Tintin-nya Herge atau baca travelogue The Naked Traveler jilid 1-3 tulisannya Trinity. He...he...he... maaf sekali Mr Nassim Nicholas Taleb kalau saya mengomparasikan The Black Swan anda dengan buku-buku yang sebenarnya berbeda kelas... .

Minggu, 15 Januari 2012

Menjadi "Indomaret" untuk Membendung Indomaret

Oleh Yoseph Kelik

PEMANDANGAN gerai Indomaret. (Foto diambil dari situs http://www.madiunonline.com  )
BEBERAPA hari lalu, saya kembali teringat satu celutukan bos saya. Kata-kata itu terucap di Bandung, lebih dari dua tahun lalu, pada satu hari di pertengahan November 2009.

Waktu itu, saya dan 10 orang kawan sedang mengikuti pelatihan wartawan pada Oktober-Desember 2009, di Tribun Jabar, Bandung. Kami bersebelas sedang menunggu hari-hari dikirim ke Jambi, untuk menenagai operasional calon koran baru, Tribun Jambi ---yang bakal merayakan ulang tahun keduanya pada 17 Maret 2012 ini.

Bos saya sendiri pada tengah November 2009 itu baru saja pulang ke Bandung dari Jambi. Beliau perlu ke Jambi untuk mengecek beberapa persiapan di kantor baru, juga mengikuti proses rekruitmen awak redaksi dari pelamar asal Jambi dan sekitarnya.

"Di Jambi itu nggak ada Indomaret...," begitulah kurang lebihnya bunyi celutukan bos saya ketika itu. Mendengarnya, sebelas wartawan baru, termasuk saya lantas ngakak.

Rabu, 21 September 2011

Bekas Tempat Dugem dan Bendera Berumur Pendek


HINGGA tujuh windu silam, bangunan lawas bercat putih itu menyandang nama yang terdengar begitu Eropa. Societet Concordia, demikianlah nama asli bangunan yang didirikan tahun 1895 itu.

Dahulunya, gedung yang menjadi satu di antara tetenger Kota Bandung ini merupakan tempat eksklusif yang pernah cuma bisa diakses oleh orang-orang Kulit Putih, khususnya lagi para meneer-mevrouw