Tampilkan postingan dengan label sejarah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sejarah. Tampilkan semua postingan

Senin, 06 Juli 2015

Antara Lara Jonggrang dan Katniss Everdeen

Oleh Yoseph Kelik

KATNISS Everdeen (foto dari giphy.com)

LANGSING
, tinggi, juga memiliki lekuk-lekuk badan yang elok. Sekalipun dari jauh pesonanya tetaplah kentara. Karena itu, belasan tahun bolak-balik melintasi jalan raya utama antara Jogja dan Klaten, ratusan kali sudah saya terpancing menolehkan kepala kepada sosok molek serta anggun ini. Apa lagi, sosok tadi saban hari memang selalu betah berdiri di sisi utara jalan, tak seberapa jauh juga dari aliran Sungai Opak.

Apa saya sedang bercerita tentang cewek, dengan kualifikasi model dan semacamnya? Maaf, bukan. Hmmm memang yakin ada cewek cakep doyan ngetem di pinggir jalan raya antar provinsi sekaligus di pinggir kali? Yah, kecuali yang bersangkutan adalah kondektur bus yang kebetulan cantik atau malah ternyata semacam Si Manis Jembatan Ancol Kali Opak...*eh.

Minggu, 01 Maret 2015

Jika Perang Bubat Tak Terjadi

Oleh Yoseph Kelik

PERANG Bubat (foto ilustrasi  diambil dari kaskus.co.id)


PERANG Bubat adalah sebuah tragedi terjadi pada 1279 Saka atau1357 Masehi. Rombongan Raja Sunda Galuh tewas seluruhnya di Bubat, sebuah lapangan tempat berkemah para tamu negara Majapahit sebelum datang ke kotaraja. Bubat terletak dekat Pelabuah Canggu, sekian kilometer arah utara dari daerah Trowulan saat ini yang merupakan situs bekas ibukota Majapahit. Kematian orang-orang Sunda itu adalah karena diserang wadyabala Majapahit. Dua pihak tersebut terlibat pertempuran yang tidak berimbang. Rombongan dari Sunda Galuh cuma ratusan orang, sedangkan pasukan Majapahit yang sedang berada di dekat pusat negara mereka sendiri tentu saja mudah mengerahkan tenaga prajurit sampai ribuan orang.

Turut tewas dalam tragedi tersebut adalah Raja Sunda Galuh sendiri, Prabu Linggabuwana, permaisurinya, juga putri mereka yakni sang sekar kedaton Dyah Pitaloka.

Senin, 28 Mei 2012

Cerita tentang Batik Kuno dari Nurlaini


Oleh Yoseph Kelik
BATIK kapal kompeni tergelar di atas lembaran batik patolah Jambi di
Ruang Tekstil Storage Museum Negeri Jambi (foto oleh Hanif Burhani) 

NURLAINI sang Kepala Seksi Pengelolaan Koleksi Museum Negeri Jambi membuka sebuah laci kabinet di sudut ruang kerjanya. Ia lalu memilih satu renceng anak kunci dari sekian renceng yang ada di dalam laci kabinet tadi.

Lalu, ia mengajak saya, rekan saya fotografer Hanif Burhani, juga Amalia Siregar sang Juara 3 Duta Batik Jambi 2012, untuk berjalan keluar. Kami pun lantas mengekor sosok yang pada Kamis pagi, 29 Maret  2012 itu mengenakan setelan batik warna hijau tersebut. Sepuluh langkah berbelok ke kiri dari ruangannya, Nurlaini berhenti dan menyorongkan anak kunci ke lubang kunci yang ada di pintu di depannya.

"Ini namanya ruang tekstil," ucap wanita paro baya yang lahir dan besar di Sumatera Barat tersebut.

Jumat, 25 Mei 2012

Punya Relief Sejarah Paling Detail di Jambi

(Tulisan tentang Monumen Tentara Pelajar Sriwijaya)



Oleh Yoseph Kelik

MONUMEN TP Sriwijaya di Simpang Sado, Kawasan Pasar, Kota Jambi (foto dari http://jambi.tribunnews.com/2012/05/24/sejenak-menengok-monumen-tentara-pelajar-sriwijaya-berita-foto)

MONUMEN Pelajar Pejuang Tentara Pelajar Sriwijaya demikianlah nama lengkap komplek taman dan monumen seluas 810 meter persegi ini. Warga Kota Jambi yang biasa berkendara maupun berjalan kaki di seputaran Kawasan Pasar tentunya pernah melintas dan melihat monumen tersebut. Pasalnya, lokasi monumen ini ada di tengah Simpang Sado, pertemuan antara Jalan dr Sutomo dan Jalan dr Wahidin. Dengan begitu, si monumen sebenarnya ada di satu jalur lingkar utama Kawasan Pasar.

Selasa, 28 Februari 2012

Tiada Pejabat di Antara 1.500 Tanda Tangan

Oleh Yoseph Kelik

AKSI Solidaritas Damai untuk Selamatkan Kawasan Percandian Muara Jambi, di Bundaran Air Mancur Telanaipura, 26 Februari 2012   


KATA para ahli ini tempat sejarah abadi
Puluhan abad silam di sini berkumpul para 'syufi'
Belajar agama mendekatkan diri pada yang Hakiki
Sekolah besar yang kini orang sebut Candi Muara Jambi
...

Rangkaian kata-kata ini merupakan penggalan puisi milik Bahren Nurdin. Bahren membacakannya pada Minggu pagi, 26 Februari 2012, di Bundaran Air Mancur Telanaipura. Saat itu, di lokasi di depan Komplek Kantor Gubernur Jambi berlangsung  Aksi Solidaritas Damai untuk Selamatkan Kawasan Percandian Muara Jambi yang  dikoordinasi oleh Svarnadwipa Institute. Tepat di bawah tatapan mata patung Sultan Thaha, likuran orang pegiat Jambi sejak pukul 06.00 memainkan musik, membacakan puisi, berorasi budaya, melakukan pentas teaterikal, juga membagikan selebaran tentang penyelamatan Candi Muara Jambi.

Senin, 31 Oktober 2011

Peti Besi Ajaib

ANDREA Hirata pernah menyebut benda ini sebagai benda ajaib. Sebutan demikian dilontrakan penulis kelahiran Pulau Belitung itu melalui tulisan di bagian tengah novel perdananya yang luar biasa laris, Laskar Pelangi. 
BUS Surat di depan Kantor Pos Pemeriksa (Kantor Pos Besar) Kota Jambi.

Menurut  Andrea, keajaiban si benda berbentuk peti besi itu adalah dalam soal kemampuannya menghantarkan hingga ke tempat-tempat jauh benda-benda berbahan kertas, yang dicemplungkan ke dalam badannya melalui celah memanjang di sisi mukanya. Sebut Andrea, semua benda kertas yang dimasukkan ke dalam peti itu bakal sampai ke tempat manapun di Indonesia dalam hitungan tiga hari sampai dengan dua minggu.

Agar si peti besi ajaib mampu mengantar hingga tempat yang dituju ada dua macam syarat.

Rabu, 21 September 2011

Bekas Tempat Dugem dan Bendera Berumur Pendek


HINGGA tujuh windu silam, bangunan lawas bercat putih itu menyandang nama yang terdengar begitu Eropa. Societet Concordia, demikianlah nama asli bangunan yang didirikan tahun 1895 itu.

Dahulunya, gedung yang menjadi satu di antara tetenger Kota Bandung ini merupakan tempat eksklusif yang pernah cuma bisa diakses oleh orang-orang Kulit Putih, khususnya lagi para meneer-mevrouw

Selasa, 20 September 2011

Candi Muaro Jambi Seharusnya Tak Cuma Jualan Bata Merah



KHUSUSNYA pada hari libur serta akhir pekan, kesadaran terhadap adanya jarak 12 abad antara zaman pendirian Candi Muaro Jambi dan abad XXI saat ini akan begitu kuat menyapa. Lalu lalang pengunjung, juga celoteh serta aksi foto narsis mereka adalah penyebabnya.

Hal tersebut terutama terjadi di sekitar Candi Gumpung, Candi Tinggi, Candi Tinggi I, juga tepian Kolam Telagorajo. Adanya penambahan fasilitas becak dan sepeda kemudian mendorong sebagian pengunjung agak beringsut lebih jauh melanjutkan jelajah mereka hingga Candi Kembar Batu dan Candi Astano di bagian timur komplek.

Pemugaran dan penggalian di sekitar Candi Kedaton, yang kemudian

Cokelat, Hijau, Biru dan Putih Komplek Percandian Muaro Jambi


ADA cokelat kemerahan tumpukan bata kuno, ada pula hijaunya rumput dan pepohonan. Paduan warna tersebut lantas bertemu dengan biru-putihnya langit di atas kepala. Inilah nuansa warna  yang terasakan kala menyambangi Komplek Candi Muaro Jambi yang terletak 26 kilometer arah timur laut Kota Jambi.

Ini sebenarnya bukanlah ungkapan yang terlalu berlebihan. Candi-candi utama yang telah terpugar di situs purbakala yang termasuk wilayah Desa Muara Jambi, Kecamatan Maro Sebo, Kabupaten Muaro Jambi ini berdiri di sebuah areal luas berumput. Di tepi lahan yang sepintas mirip padang golf tersebut ada kebun-kebun berpohon lebat milik

Senin, 05 September 2011

Jadi Sebutan Generik Vespa 1958-1965


SEBUTAN Kongo kemudian tak sebatas dipakai sebagai nama Vespa eks Kontingen Garuda II dan III. Menurut cerita Yosep Ariandi dan Dodi Bongkeng dari Komunitas Pecinta Scooter Jambi (KPSJ) pada Jumat (4/2/2011) malam, dalam perkembangannya, nama Kongo juga dipakai menyebut semua Vespa berkepala bentuk bulat, ber-cc mesin 150 dan 125, serta yang diproduksi antara 1959-1965. Contoh dari Vespa Kongo yang bukan asli eks Kontingen Garuda adalah milik Iwan, penggemar Vespa yang tinggal di Simpang Kawat, Kota Jambi.

Vespa Kongo eks Kontingen Garuda maupun yang bukan memang memiliki sejumlah kemiripan. Mereka sama-sama memiliki bentuk lampu depan bulat besar dan bentuk spedometer petak atau kotak. Di atas spedometer, mereka pun sama-sama memiliki sebuah lampu kecil indikator

Legenda dan Idaman itu Bernama Kongo


KONGO adalah nama sebuah negara di Afrika Tengah. Negara ini kerap menjadi palagan yang penuh darah. Itu mulai dari perang negara itu dengan dua tetangganya, Uganda dan Rwanda di awal dekade 2000-an. Lalu, ada perang saudara penggulingan diktator Mobutu Sese Sese Seko pada 1996-1997. Selain itu ada juga perang kemerdekaan negeri itu melawan kolonialis Belgia pada peralihan pada penghujung dekade 1950-an.

Namun, biarpun memiliki sejarah konflik semacam ini, nama Kongo sangatlah beken di kalangan skuteris alias penggemar skuter di Indonesia. Itu bukan karena Kongo negara produsen  skuter. Itu lebih karena

Minggu, 14 Agustus 2011

Tradisi Berumur Sembilan atau Sepuluh Windu (2)

TAK benar-benar ada tahun pasti tentang awal mula tradisi pawai topeng kala Lebaran di Desa Muara Jambi. Hanya saja dalam penelusuran yang dilakukan para pemuda Desa Muara Jambi sekitar dua tahun silam, yakni dengan cara mewancarai para sesepuh desa, didapati ingatan sejarah lisan tradisi tersebut telah ada di dekade 1930-an. Ini berarti umur tradisi paling tidak adalah sembilan atau sepuluh windu.

Penelusuran dua tahun lalu itu dilakukan para pemuda ketika hendak menyusun semacam sinopsis sejarah siangkat tradisi topeng desa mereka. Mereka melakukan hal tersebut sebelum menampilkan seni topeng ala desa mereka dalam pawai pembangunan di Sengeti pada 17 Agustus 2008 serta pawai pembangunan di Kota Jambi sehari setelah itu. 

Riuhnya Acara Topeng Lebaran Ala Desa Muara Jambi (1)

ADA yang unik dari Idul Fitri alias Lebaran di Desa Muara Jambi, Kecamatan Maro Sebo, Kabupaten Muaro Jambi. Di desa di dekat Komplek Percandian Muaro Jambi tersebut tentu saja ada gema takbir, bunyi petasan dan nyala kembang api. Di sana, sama halnya seperti pemukiman kaum Muslim lainnya, berlangsung pula acara sholat ied, silaturahmi dari rumah ke rumah dan halal bihalal. Jika ditanya perihal suguhan kue-kue yang berlimpah maupun jamuan ketupat, jawabannya pun ialah ya.

Hanya saja, ada satu tradisi tahunan setiap Lebaran di desa tersebut yang tak setiap desa di Provinsi Jambi atau bahkan di Indonesia memilikinya. Tradisi tersebut berupa pawai keliling kampung oleh belasan orang bertopeng. Pawai itu biasa berlangsung setiap Lebaran hari pertama, yakni siang hari sekitar selepas dzuhur. Hebatnya, berdasarkan ingatan sejumlah warga
yang telah berusia lanjut, tradisi ini paling tidak telah berlangsung sekitar sembilan windu alias tujuh puluh dua tahun. Wow...

Jumat, 10 September 2010 siang silam, tradisi tahunan tersebut kembali berlangsung. Sejak sehabis Sholat Jumat, anak-anak tampak