Tampilkan postingan dengan label jogja. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label jogja. Tampilkan semua postingan

Minggu, 10 Maret 2013

Sandal Jepit: Resminya Dibenci, Senyatanya Disukai

Oleh Yoseph Kelik
SANDAL jepit (foto diunduh dari deltakirana.devianart.com)

BAGI kaki-kaki bersandal jepit, pintu-pintu kantor di Indonesia bukanlah benda yang rela menjadi pintu biasa. Pintu-pintu itu lebih memilih berlaku layaknya gerbang perbatasan dari suatu negeri tak ramah. Begitu enggan mengizinkan wilayah di sebalik pintu untuk dilongok, apa lagi dikunjungi, oleh kaki-kaki bersandal jepit. Seolah si pintu adalah garis lintang utara 38 derajat, sedangkan  wilayah di sebalik pintu itu adalah Korea Utara.

Penegas status sebagai perbatasan itu lazimnya adalah plakat atau tempelan kertas, berisi larangan penggunaan sandal jepit.

Jumat, 30 November 2012

Menyelundupkan Sepeda ke Dalam Kereta


Oleh Yoseph Kelik
KERETA api Prameks (foto diambil dari republika.co.id)

"LAIN kali nggak boleh ini, Mas. Ini hanya untuk penumpang, bukan angkutan barang."

Kata-kata hardikan ini meluncur dari bibir seorang petugas Polsuska berkumis melintang. Nadanya cukup tajam. Tertuju kepada saya yang memilih memasang tampang bloon.

Hardikan si petugas polsuska itu sendiri bukannya tanpa sebab. Sabtu sore di pertengahan April 2009, di dalam Kereta Api Prameks Jogja-Solo, tempat si bapak berkumis melintang itu berdinas, saya memang melalukan sebuah "kenakalan kecil".

Bukan, bukan mencopet atau kedapatan nggak beli karcis.

Selasa, 26 Juni 2012

Ketika Rainbow Cake Jadi Keik Sejuta Umat...


(Hasil Penggabungan Plus Pengembangan dari 5 Tulisan yang Dimuat di Halaman 9 dan 10 Harian Pagi Tribun Jambi edisi Minggu, 24 Juni 2012)


Oleh Yoseph Kelik
RAINBOW Cake (foto dari www.az-cakes.com)


NAMANYA indah dibaca, elok pula terdengar telinga. Wujudnya pun berlapis-lapis dengan lima sampai enam macam warna, teramat menggoda mata. Itulah rainbow cake alias keik pelangi, sejenis kue anyar yang dalam waktu singkat mampu menjangkitkan euforia mengudap kepada para penghuni berbagai kota di Indonesia.

Ini kurang lebih mirip dengan yang pernah terjadi ketika brownis kukus muncul dan sangat digilai orang beberapa tahun lalu.  Malah, agaknya jauh melebih antusiasme orang kepada klapertaart serta cupcake kala sedang naik daun beberapa waktu silam.