Tampilkan postingan dengan label lebaran. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label lebaran. Tampilkan semua postingan

Selasa, 18 September 2012

Banjir Soft Drink Impor Negeri Jiran Kala Lebaran

Oleh Yoseph Kelik

NARAYA Cola
INGAT lagu Bang Toyib, yang diceritakan pergi tak pulang ke rumah selama tiga kali Lebaran? Nah, kalau dihitung dari soal Lebaran dan tradisi mudik ke kampung halaman yang menyertainya, saya sepertinya termasuk golongan "Bang Toyib". Soalnya, saya selama hampir tiga tahun bekerja dan tingggal di Jambi ini tak pernah pulang kampung ke Wonogiri pada saat Lebaran.

Hanya saja, jika Bang Toyib disebutkan dalam lagu tak pernah pulang, saya senyatanya dalam kurun hampir tiga tahun itu sempat pulang kampung sebanyak tiga kali. Hanya saja, saya memang  selalu mengambil cuti pulang kampung di luar masa hari raya, baik itu Lebaran maupun Natal dan Tahun Baru. Itu semua demi mendapatkan tiket pesawat yang lebih terjangkau isi kantong. Dari tiga kali saya mengambil cuti untuk mudik, dua kali di antaranya  justru memilih hari pada seputaran pertengah Februari sampai dengan awal Maret. Cuma cuti II 2012 ini, yang saya ambil antara 4-11 September, terhitung masih berdekatan dengan Lebaran. Itu pun jarak dengan hari Lebarannya sudah dua pekan. Jadi, saya baru mulai mudik ketika sebagian besar orang di Indonesia sudah rampung berarus balik.

Minggu, 14 Agustus 2011

Tradisi Berumur Sembilan atau Sepuluh Windu (2)

TAK benar-benar ada tahun pasti tentang awal mula tradisi pawai topeng kala Lebaran di Desa Muara Jambi. Hanya saja dalam penelusuran yang dilakukan para pemuda Desa Muara Jambi sekitar dua tahun silam, yakni dengan cara mewancarai para sesepuh desa, didapati ingatan sejarah lisan tradisi tersebut telah ada di dekade 1930-an. Ini berarti umur tradisi paling tidak adalah sembilan atau sepuluh windu.

Penelusuran dua tahun lalu itu dilakukan para pemuda ketika hendak menyusun semacam sinopsis sejarah siangkat tradisi topeng desa mereka. Mereka melakukan hal tersebut sebelum menampilkan seni topeng ala desa mereka dalam pawai pembangunan di Sengeti pada 17 Agustus 2008 serta pawai pembangunan di Kota Jambi sehari setelah itu. 

Riuhnya Acara Topeng Lebaran Ala Desa Muara Jambi (1)

ADA yang unik dari Idul Fitri alias Lebaran di Desa Muara Jambi, Kecamatan Maro Sebo, Kabupaten Muaro Jambi. Di desa di dekat Komplek Percandian Muaro Jambi tersebut tentu saja ada gema takbir, bunyi petasan dan nyala kembang api. Di sana, sama halnya seperti pemukiman kaum Muslim lainnya, berlangsung pula acara sholat ied, silaturahmi dari rumah ke rumah dan halal bihalal. Jika ditanya perihal suguhan kue-kue yang berlimpah maupun jamuan ketupat, jawabannya pun ialah ya.

Hanya saja, ada satu tradisi tahunan setiap Lebaran di desa tersebut yang tak setiap desa di Provinsi Jambi atau bahkan di Indonesia memilikinya. Tradisi tersebut berupa pawai keliling kampung oleh belasan orang bertopeng. Pawai itu biasa berlangsung setiap Lebaran hari pertama, yakni siang hari sekitar selepas dzuhur. Hebatnya, berdasarkan ingatan sejumlah warga
yang telah berusia lanjut, tradisi ini paling tidak telah berlangsung sekitar sembilan windu alias tujuh puluh dua tahun. Wow...

Jumat, 10 September 2010 siang silam, tradisi tahunan tersebut kembali berlangsung. Sejak sehabis Sholat Jumat, anak-anak tampak