Tampilkan postingan dengan label candi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label candi. Tampilkan semua postingan

Senin, 06 Juli 2015

Antara Lara Jonggrang dan Katniss Everdeen

Oleh Yoseph Kelik

KATNISS Everdeen (foto dari giphy.com)

LANGSING
, tinggi, juga memiliki lekuk-lekuk badan yang elok. Sekalipun dari jauh pesonanya tetaplah kentara. Karena itu, belasan tahun bolak-balik melintasi jalan raya utama antara Jogja dan Klaten, ratusan kali sudah saya terpancing menolehkan kepala kepada sosok molek serta anggun ini. Apa lagi, sosok tadi saban hari memang selalu betah berdiri di sisi utara jalan, tak seberapa jauh juga dari aliran Sungai Opak.

Apa saya sedang bercerita tentang cewek, dengan kualifikasi model dan semacamnya? Maaf, bukan. Hmmm memang yakin ada cewek cakep doyan ngetem di pinggir jalan raya antar provinsi sekaligus di pinggir kali? Yah, kecuali yang bersangkutan adalah kondektur bus yang kebetulan cantik atau malah ternyata semacam Si Manis Jembatan Ancol Kali Opak...*eh.

Senin, 02 April 2012

Para Ibu pun Betah Menontonnya

(Tulisan tentang Parade Musik Underground, Getar Tanah Sejarah #3)


Oleh Yoseph Kelik


SUASANA Getar Tanah Sejarah #3 sekitar pukul 15.30
PENONTON event Getar Tanah Sejarah #3 di Percandian Muarajambi pada Minggu, 25 Maret 2012 memang didominasi para anak muda usia belasan tahun dan dua puluhan. Selain itu, memang datang pula menonton parade musik underground itu sejumlah pegiat underground yang telah lewat berusia tiga puluhan. Di antara penonton ada yang datang dari Bali dan Jember, Jawa Timur. Contoh penonton yang berasal dari Jember adalah seorang anak punk berusia 17 tahun bernama Alvin.

"Buat nonton ini saya nginap di gedung di dekat lapangan parkir," kata pemuda bertubuh kecil dan kurus itu kepada saya di sela-sela berlangsungnya acara.

Semoga Tahun Depan Ada Lagi...

(Tulisan tentang Parade Musik Underground, Getar Tanah Sejarah #3)


Oleh Yoseph Kelik

SATU dari  29 band penampil dalam parade musik underground, Getar Tanah Sejarah #3, pada Minggu, 25 Maret 2012

DI mata dan telinga orang kebanyakan orang, apa yang dilakukan Enda selama delapan sampai sepuluh menit itu pastilah bukan gambaran menyanyi yang ideal. Itu pastilah lebih terlihat serta terdengar sebagai serangkaian desis, geraman, gerutu, pula teriakan. Bising.  Sungguh tiada sama sekali syair melankolis ala dendang lagu pop hingga lagu daerah. Namun, percayalah bahwa yang Enda kerjakan pada Minggu siang, 25 Maret 2012 silam, di atas panggung 15 x 10 meter, di tengah komplek Percandian Muarajambi, memang sungguh menyanyi. Buktinya, ada tiga kawannya Reza, Tinus, serta Jimmy, mengiringi dengan masing-masing memainkan drum, gitar, dan bas.

Selasa, 28 Februari 2012

Tiada Pejabat di Antara 1.500 Tanda Tangan

Oleh Yoseph Kelik

AKSI Solidaritas Damai untuk Selamatkan Kawasan Percandian Muara Jambi, di Bundaran Air Mancur Telanaipura, 26 Februari 2012   


KATA para ahli ini tempat sejarah abadi
Puluhan abad silam di sini berkumpul para 'syufi'
Belajar agama mendekatkan diri pada yang Hakiki
Sekolah besar yang kini orang sebut Candi Muara Jambi
...

Rangkaian kata-kata ini merupakan penggalan puisi milik Bahren Nurdin. Bahren membacakannya pada Minggu pagi, 26 Februari 2012, di Bundaran Air Mancur Telanaipura. Saat itu, di lokasi di depan Komplek Kantor Gubernur Jambi berlangsung  Aksi Solidaritas Damai untuk Selamatkan Kawasan Percandian Muara Jambi yang  dikoordinasi oleh Svarnadwipa Institute. Tepat di bawah tatapan mata patung Sultan Thaha, likuran orang pegiat Jambi sejak pukul 06.00 memainkan musik, membacakan puisi, berorasi budaya, melakukan pentas teaterikal, juga membagikan selebaran tentang penyelamatan Candi Muara Jambi.

Senin, 05 Desember 2011

Ikan Senggung dan Eksotisme dari Kesederhanaan (Sebuah Tulisan tentang Makanan Khas Jambi)

Oleh Yoseph Kelik


IKAN senggung ketika dimasak di atas bara kecil.
(foto oleh Hanif Burhani, diambil dari situs tribunjambi.com)
LEBIH baik jangan coba mencari menu ikan senggung di berbagai restoran atau warung makan di Kota Jambi. Hampir pasti adalah perjuangan sias-sia yang bakal membikin anda pusing tujuh keliling.


Menu olahan ikan ini memang tidak tersedia di restoran maupun warung makan umumnya. Namun, saya rasa anda tak bakal menyesal jika sampai bisa mencicipi menu khas Jambi ini, yang memang terbilang istimewa dari segi cara masaknya tersebut.

Jumat, 23 September 2011

Sewot Gara Gara "Kebaya" Kate Middleton



SEORANG kawan saya pada penghujung April 2011 lalu, pernah menulis beberapa kalimat bernada sewot sebagai status Facebook-nya. Hari saat ibu satu putri tersebut menulis status bernada sewot itu adalah satu atau dua hari setelah upacara pernikahan Pangeran William dengan Kate Middleton.

Oh, tapi jangan salah, penyebab sewot perempuan yang kini berusi 24 tahun itu bukanlah karena dia merupakan satu di antara wanita iri terhadap keberhasilan Kate Middleton "menyeret" Pangeran William ke depan altar. Penyebab sewot istri seorang teman dekat saya selama kuliah di Jogja itu adalah

Selasa, 20 September 2011

Candi Muaro Jambi Seharusnya Tak Cuma Jualan Bata Merah



KHUSUSNYA pada hari libur serta akhir pekan, kesadaran terhadap adanya jarak 12 abad antara zaman pendirian Candi Muaro Jambi dan abad XXI saat ini akan begitu kuat menyapa. Lalu lalang pengunjung, juga celoteh serta aksi foto narsis mereka adalah penyebabnya.

Hal tersebut terutama terjadi di sekitar Candi Gumpung, Candi Tinggi, Candi Tinggi I, juga tepian Kolam Telagorajo. Adanya penambahan fasilitas becak dan sepeda kemudian mendorong sebagian pengunjung agak beringsut lebih jauh melanjutkan jelajah mereka hingga Candi Kembar Batu dan Candi Astano di bagian timur komplek.

Pemugaran dan penggalian di sekitar Candi Kedaton, yang kemudian

Cokelat, Hijau, Biru dan Putih Komplek Percandian Muaro Jambi


ADA cokelat kemerahan tumpukan bata kuno, ada pula hijaunya rumput dan pepohonan. Paduan warna tersebut lantas bertemu dengan biru-putihnya langit di atas kepala. Inilah nuansa warna  yang terasakan kala menyambangi Komplek Candi Muaro Jambi yang terletak 26 kilometer arah timur laut Kota Jambi.

Ini sebenarnya bukanlah ungkapan yang terlalu berlebihan. Candi-candi utama yang telah terpugar di situs purbakala yang termasuk wilayah Desa Muara Jambi, Kecamatan Maro Sebo, Kabupaten Muaro Jambi ini berdiri di sebuah areal luas berumput. Di tepi lahan yang sepintas mirip padang golf tersebut ada kebun-kebun berpohon lebat milik

Minggu, 14 Agustus 2011

Tradisi Berumur Sembilan atau Sepuluh Windu (2)

TAK benar-benar ada tahun pasti tentang awal mula tradisi pawai topeng kala Lebaran di Desa Muara Jambi. Hanya saja dalam penelusuran yang dilakukan para pemuda Desa Muara Jambi sekitar dua tahun silam, yakni dengan cara mewancarai para sesepuh desa, didapati ingatan sejarah lisan tradisi tersebut telah ada di dekade 1930-an. Ini berarti umur tradisi paling tidak adalah sembilan atau sepuluh windu.

Penelusuran dua tahun lalu itu dilakukan para pemuda ketika hendak menyusun semacam sinopsis sejarah siangkat tradisi topeng desa mereka. Mereka melakukan hal tersebut sebelum menampilkan seni topeng ala desa mereka dalam pawai pembangunan di Sengeti pada 17 Agustus 2008 serta pawai pembangunan di Kota Jambi sehari setelah itu. 

Riuhnya Acara Topeng Lebaran Ala Desa Muara Jambi (1)

ADA yang unik dari Idul Fitri alias Lebaran di Desa Muara Jambi, Kecamatan Maro Sebo, Kabupaten Muaro Jambi. Di desa di dekat Komplek Percandian Muaro Jambi tersebut tentu saja ada gema takbir, bunyi petasan dan nyala kembang api. Di sana, sama halnya seperti pemukiman kaum Muslim lainnya, berlangsung pula acara sholat ied, silaturahmi dari rumah ke rumah dan halal bihalal. Jika ditanya perihal suguhan kue-kue yang berlimpah maupun jamuan ketupat, jawabannya pun ialah ya.

Hanya saja, ada satu tradisi tahunan setiap Lebaran di desa tersebut yang tak setiap desa di Provinsi Jambi atau bahkan di Indonesia memilikinya. Tradisi tersebut berupa pawai keliling kampung oleh belasan orang bertopeng. Pawai itu biasa berlangsung setiap Lebaran hari pertama, yakni siang hari sekitar selepas dzuhur. Hebatnya, berdasarkan ingatan sejumlah warga
yang telah berusia lanjut, tradisi ini paling tidak telah berlangsung sekitar sembilan windu alias tujuh puluh dua tahun. Wow...

Jumat, 10 September 2010 siang silam, tradisi tahunan tersebut kembali berlangsung. Sejak sehabis Sholat Jumat, anak-anak tampak