Tampilkan postingan dengan label buku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label buku. Tampilkan semua postingan

Minggu, 12 Oktober 2014

Kisah 10 Abad Eksistensi Kaum Tionghoa di Nusantara

(Risalah dan Tinjauan atas buku Peranakan Tionghoa  di Nusantara: Catatan Perjalanan dari Barat ke Timur tulisan Iwan Santosa)


Oleh: Yoseph Kelik
SAMPUL depan buku Peranakan Tionghoa di Nusantara (foto diambil dari situs aspertina.org)

AWALNYA adalah serangkaian artikel yang terbit mulai dari 13 Agustus 2002 sampai dengan 21 Januari 2012 di koran KOMPAS. Totalnya ada 65 artikel yang penulisannya melibatkan 24 jurnalis tulis maupun foto.

Senin, 25 November 2013

Mengingat Tesla, Edison, dan Jobs

Oleh Yoseph Kelik


BOHLAM yang kerap menjadi simbol dari ide (foto dari telegraph.co.uk)
DI tengah Amerika Utara, seorang ilmuwan paro baya membangun laboratoriumnya pada pinggir sebuah kota kecil. Pria tadi bereksperimen dengan pembangkit listrik dan jaringannya, membuat kota kecil yang ditinggalinya lantas bermandi cahaya di malam hari.

Semua tadi berlangsung pada tahun-tahun di kuartal terakhir abad XIX. Kala itu, berkah penerangan oleh listrik belumlah jadi menjadi suatu konsumsi massal, apa lagi global. Karena itu, apa yang diperbuat si ilmuwan bagi si kota kecil adalah layaknya mukjizat.

Sabtu, 12 Januari 2013

Mengenang Tintin dan Sebuah Taman Bacaan

KOMIK serial Tintin nomor 22, Penerbangan 714 ke Sidney
Oleh Yoseph Kelik



MEMBACA Tintin: The Complete Companion  mau tak mau ngingetin saya ke zaman masih duduk di bangku SMP. Masa itu terbilang  masa keakraban terintim saya dengan komik-komik serial Tintin. Kala itu, saya  begitu sering menumpang  baca maupun pinjam untuk dibawa pulang  di  satu taman bacaan sekitar 200 meter dari sekolah saya.

Oh ya, nama taman bacaan itu Hendragiri. Lokasinya tepat di sebelah timur Gereja Katolik Santo Yohanes Rasul Wonogiri, Jawa Tengah. Taman bacaan itu termasuk bagian komplek Susteran Carolus Borromeus (CB) di Wonogiri. Pengeloaan taman bacaan tersebut pun ada di tangan para biarawati Katolik.

Tak cuma komik-komik serial Tintin yang dulu kerap saya baca dan pinjam di taman bacaan yang dengar-dengar sekarang sudah tutup itu.

Tintin, Wartawan yang Nyaris Tak Pernah Mengetik Berita


BUKU Tintin: The Complete Companion edisi bahasa Indonesia
Oleh Yoseph Kelik


PADA pekan pertama dan kedua Januari 2013 ini, saya sedang sedang membaca Tintin: The Complete Companion tulisan Michael Farr. Ini adalah buku panduan dan analisis terhadap serial komik Tintin kreasi komikus Belgia, Herge yang bernama asli Georges Remi. Versi yang saya baca adalah edisi berbahasa Indonesia terbitan 2011 dari Gramedia Pustaka Utama. Buku 205 halaman ini adalah hasil penerjemahan dari edisi berbahasa Inggris cetakan 2001 milik Penerbit Moulinsart.

Tintin: The Complete Companion membahas secara lengkap seluruh komik “anggota keluarga besar” serial bertokoh utama wartawan berambut jambul itu. Farr mengulas secara rinci mulai dari seri pertama terbitan 1929, Petualangan Tintin di Tanah Sovyet, sampai dengan yang  terakhir alias seri kedua puluh empat, Tintin dan Alpha-Art, yang pengerjaannya belum rampung ketika Herge meninggal dunia pada 1983.

Dalam buku panduan ini, hampir setiap seri komik Tintin beroleh satu bab khusus untuk pembahasannya.

Minggu, 04 November 2012

Agar Sungguh Jadi Tempat Mencerdaskan dan Mencerahkan

Oleh Yoseph Kelik



Siswi dari Amrik
SAAT itu bulan Mei 2011, jelang masa Ujian Nasional (UN). Seorang kawan sekantor meliput di SMP Negeri 1 Jambi, sebuah SMP favorit di Kota Jambi. Selain mewancarai kepala sekolah dan beberapa guru, mengumpulkan cerita tentang persiapan yang dilakukan SMP tersebut guna menghadapi UN sang penentu kelulusan para murid kelas IX.

Lalu, kawan itu ternyata menemukan satu di antara ratusan murid SMP Negeri 1 Jambi yang ternyata berkewarganegaraan Amerika Serikat, lahir dan memang besar di negara paman Sam itu.

Kamis, 22 Maret 2012

Ternyata Terinfeksi Black Swan


Oleh Yoseph Kelik


FOTO dari gramediashop.com
SAYA punya buku tulisannya Nassim Nicholas Taleb, The Black Swan. Saya membelinya sekitar 2,5 tahun lalu di Bandung, cuma sehari sebelum diberangkatkan bertugas ke Jambi. Seingat saya, buku itu saya beli di Toko Buku Gramedia Bandung Super Mall alias BSM. Waktu itu, Gramedia di BSM lagi ulang tahun dan ada promo diskon gede untuk buku-buku di sana.

The Black Swan itu buku dengan 400 sekian halaman. Dua tahun lebih memilikinya ternyata nggak sampai setengahnya yang kelar terbaca. Kalau diinget-inget, saya berjuang membaca The Black Swan itu selama sekitar dua bulan, kurang lebih setengah tahun jaraknya sehabis beli. Saya sebut berjuang membaca karena saya memang sungguh keteteran untuk membacanya. Haduuuh..., sungguh enakan baca komik-komik Tintin-nya Herge atau baca travelogue The Naked Traveler jilid 1-3 tulisannya Trinity. He...he...he... maaf sekali Mr Nassim Nicholas Taleb kalau saya mengomparasikan The Black Swan anda dengan buku-buku yang sebenarnya berbeda kelas... .

Jumat, 28 Oktober 2011

Kloset Duduk

Oleh Yoseph Kelik

SAYA kali pertama menginjakkan kaki di Kota Jambi hampir dua tahun lalu. Dua puluh dua bulan silam tepatnya.

Awal Desember 2009 itu, saya datang ke Ibukota Provinsi Jambi ini bersama delapan orang teman, sesama calon wartawan baru untuk calon jabang bayi Harian Pagi Tribun Jambi yang baru akan terbit empat bulan kemudian. Delapan orang teman seperjalanan dan seperjuangan saya itu, hasil pelatihan dua bulan di Bandung, terdiri dari lima reporter yakni Duanto, Bandot, Jari, Bony, serta Habibie, juga tiga fotografer yaitu Hanif, Prast, dan Taufan. Dua desainer grafis sesama peserta pelatihan di Tribun Jabar, Suud dan Prima, dititipkan lebih dahulu di Tribun Lampung

SEBELAS alumnus pelatihan wartawan di Bandung berfoto bersama dengan  Pak  Cecep, Mbak Hasanah, dan Mbak Dwi di depan Grha Tribun Jabar, Bandung (foto oleh Hanif Burhani)

Karat di Sayap
Kami bersembilan sampai di Jambi dengan menunggang