Tampilkan postingan dengan label manchester united. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label manchester united. Tampilkan semua postingan

Jumat, 17 Mei 2013

Sir Alex dan 1,26 Trofi Per Tahun

Oleh Yoseph Kelik
HALAMAN muka Manchester Evening News, 9 Mei 2013, edisi khusus  pensiunnya  Sir Alex Ferguson
(foto diambil dari digitalspy.co.uk)

MINGGU,19 Mei 2013 bakal jadi satu tanggal yang diingat fans Manchester United sampai bertahun-tahun ke depan. Sir Alex Ferguson menjadikan pertandingan Liga Primer Inggris antara United versus West Bromwich Albion sebagai laga terakhirnya selaku seorang manajer klub sepakbola. Setelah 26 tahun menukangi Sang Manchester Merah, Fergie akhirnya memutuskan pensiun.

Hmmm...kini barangkali banyak manajer dan pelatih klub-klub lain pesaing Manchester United bisa menarik nafas lebih lega. Terbayang akhirnya bahwa kerja mereka bakal lebih ringan he...he...he... .

38 dan 11
Sir Alex memang sosok yang pastinya memusingkan para manajer dan pelatih rivalnya. Itu pun berlangsung bertahun-tahun. Ingat ya, capaian gelar juara aneka event Sir Alex untuk Man U selama 26 tahun adalah 38 trofi.

Rabu, 16 November 2011

Ancelotti dan Hasil-Hasil Dramatik

Bagian Kedua dari Tiga Tulisan Profil Tentang Carlo Ancelotti


Oleh Yoseph Kelik

ANCELOTTI dan skuad Milan dalam perayaan kemenangan Liga Champions 2002/2003
(foto dari dailymilan.com) 
MUSIM-musim Milan di bawah kepelatihan Ancelotti masih saya ingat juga kerap diwarnai peragaan kemenangan dramatik dan mematikan di kancah Eropa. Yang saya sebut di sini sebagai kemenangan dramatik adalah kemenangan-kemenangan yang diraih I Rossoneri setelah sebelumnya didahului oleh hasil mengecewakan, kalau tidak bisa disebut hasil yang buruk. Kemenangan-kemengan dramatik itu bagi saya adalah pula pengingat tentang kedahsyatan kemampuan Ancelotti dalam meracik taktik. Kemenangan-kemenangan yang dihasilkan lewat cara membalikkan keadaan itu tentu datang gabungan otak brilian, naluri peka, syaraf baja, hingga hitung-hitungan yang tidak konvensional. Taktik-taktik Ancelotti dalam pertandingan-pertandingan krusial itu ibarat seorang pejudo, yang awalnya terlihat dalam posisi terdesak, namun ternyata malah mampu melakukan gerakan mematikan terhadap lawannya di detik-detik terakhir.

Selasa, 20 September 2011

Tanpa Jersey Bukan Penggemar Sejati...

JULUKAN sebuah tim sepakbola kerap berkaitan dengan pilihan warna serta motif kostum kebanggan mereka. Ini berlaku untuk level klub maupun level tim nasional (tim nasional). AC Milan berkostum utama motif strip vertikal selang-seling merah dan hitam, berjulukan I Rossoneri  alias  Si Merah Hitam dalam bahasa Italia; Manchester United berkostum utama kaos merah berjulukan The Red Devils alias Setan Merah;  Liverpool berkostum utama kaos merah- celana merah, berjulukan The Reds; Timnas Prancis dan klub Chelsea berkostum utama kaos biru , masing-masing memiliki julukan Si Biru yakni Les Bleus dan The Blues; Real Madrid yang berkostum utama kaos putih-celana putih memiliki sebutan dalam bahasa Spanyol Castilia, Los Blancos, yang berarti Si Putih.

Kostum tim atau yang lazim disebut sebagai jersey kerap menjadi simbol identitas dan kebanggan sebuah tim, termasuk di mata para penggemar beratnya. Saking cintanya, setiap tim berganti model jersey, biasanya