Oleh Yoseph Kelik
DALAM psikologi populer ada istilah stockholm syndrome. Itu adalah untuk menyebut suatu fenomena ketika korban penculikan malah menjadi bersimpati, memiliki penilaian positif, hingga loyal dan membela penculiknya.
Menurut saya, stockholm syndrome itu ternyata tidak cuma berlaku untuk kasus-kasus dengan korban individual atau berjumlah sedikit orang. Stockholm syndrome itu rupanya bisa saja terjadi untuk kasus- kasus dengan korban bersifat komunal alias berjumlah sangat banyak. Termasuk dalam hal ini adalah berlaku dalam skala suku/etnis hingga bangsa.
Pada stockholm syndrome dengan korban-korban bersifat komunal, kasus penculikannya tak bisa lagi dimaknai harafiah. "Penculikan" bertransformasi menjadi kejahatan-kejahatan lain yang berskala jauh lebih besar. Contohnya adalah kekerasan massif atau terus-menerus hingga kejahatan kemanusian luarbiasa semacam genosida.
Dalam versi saya, stockholm syndrome komunal adalah kondisi ketika suatu komunitas tertindas kemudian meniru perilaku penindasnya.