Oleh Yoseph Kelik
DIA terlahir 85 tahun atau 83 tahun lalu. Jangan tanya tahun mana yang lebih tepat. Jangan pula tanya tanggal lahirnya. Ia lahir dari generasi yang belum menganggap penting catatan rinci tentang tahun lahir, tanggal ulang tahun, apa lagi dokumen semacam akta lahir.
Nama yang diberikan kepadanya semasa kecil adalah Sugiyono, dipanggil Sugi. Setelah menikah, namanya berubah menjadi Karso Giyono. Nama ini pula lah yang tercantum secara resmi di KTP-nya.
Tampilkan postingan dengan label bero. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label bero. Tampilkan semua postingan
Selasa, 31 Maret 2015
Selasa, 27 September 2011
Wonogiri, Dari Peta Naik ke Hati (2: Cerita tentang Manyaran)
![]() |
| Kantor Kecamatan Manyaran |
SEBAGAIMANA Desa Bero saya, kecamatan tempat saya lahir dan tumbuh dewasa yakni Manyaran merupakan sebuah daerah yang bisa dikatakan tanggung. Tak ada keunggulan signifikan darinya. Meski bukan daerah tandus, daerah tersebut jelas bukan merupakan daerah lumbung pertanian, apa lagi memiliki sawah-sawah cantik layaknya di Ubud Bali. Sawah sih ada, tapi tak seberapa luas. Kebanyakan adalah sawah-sawah tadah hujan yang ada di sekitar tepian sungai-sungai kecil yang cuma berair deras di musim penghujan. Sungai-sungai itu pada puncak musim kemarau juga bakal cuma berair pada bagian lubuk-lubuknya. Antara satu lubuk ke lubuk lainnya, air menghilang. Kalaupun ada, itu hanya berupa selokan kecil yang sudah sangat ogah-ogahan mengalirkan air.
Kecamatan yang Tersudut
Kota kecamatan Manyaran tak setiap hari ramai. Momen ramai adalah pada hari pasaran sepekan sekali, juga sekitar Lebaran ketika para perantau asal kecamatan itu sedang mudik. Kios-kios toko di Manyaran sih lumayan banyak. Pasar tradisionalnya yang kira-kira seukuran satu lapangan bola lumayan ramai, terlebih pada hari pasaran ketika aktivitas jual beli lantas menyempitkan jalan raya di depan pasar hingga separo ukuran semula. Namun,
Wonogiri, Dari Peta Naik ke Hati (1: Cerita tentang Bero)
Bagian Pertama dari Lima Tulisan
"RUMPUT pekarangan tetangga selalu terlihat lebih hijau ketimbang rumput pekarangan sendiri."
Ungkapan populer satu ini tentulah pernah anda dengar. Nah, kalau saya punya versi lain dari ungkapan tadi, masih mirip-mirip sih. Versi lain dari saya itu berbunyi "kampung halaman orang terlihat lebih indah ketimbang kampung kita sendiri."Jika dibanding ungkapan aslinya, versi dari saya besar kemungkinan bukan sesuatu yang familiar bagi anda. Tapi, saya harap anda mau berbaik hati memaklumi, setidaknya untuk tulisan ini...he..he...he....
Arti Kampung Halaman
Namun,sebelum terlalu jauh, perbolehkan saya mengajak anda berbincang lebih dahulu tentang "kampung halaman" yang saya maksudkan di sini. Seperti umumnya, istilah tadi merujuk kepada daerah asal atau tempat lahir dan dibesarkan.
Hanya saja, saya di sini mengartikannya dalam versi yang luas. Kampung halaman di sini dapat dimaknai sebagai
Langganan:
Postingan (Atom)

