Tampilkan postingan dengan label kuliner jambi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kuliner jambi. Tampilkan semua postingan

Jumat, 14 Desember 2012

Toko Kopi Ahok: Tempat Menemukan Semangat Pagi di Pojok Simpang Jelutung

Oleh Yoseph Kelik

TOKO Kopi Ahok di Simpang Jelutung, Kota Jambi (foto oleh Hanif Burhani)
SARAPAN yang menyenangkan konon dapat menjadi awal bagi hari yang menyenangkan pula. Sepiring menu dengan isi sedang, cukup bisa mengganjal perut, tapi juga tak sampai bikin kekenyangan, serta secangkir kopi susu hangat, boleh jadi adalah contoh kombinasi menu yang pas.

Di antara sekian tempat makan penyedia sarapan di Kota Jambi, Toko Kopi Ahok di pojok Simpang Empat Jelutung boleh jadi spot oke untuk menemukan pilihan menu semacam itu. Untuk menu utama sarapan, sepiring mie celor di sana jadi contoh menu yang saya rekomendasikan. Kuahnya kental segar dan tentu saja gurih. Potongan daging dipotong dadu yang ditaburkan di atas gundukan mienya pun menurut saya sedikit lebih besar ketimbang di beberapa menu serupa di tempat makan yang lain.


Jumat, 09 November 2012

Jelajah Seafood di Kuala Tungkal


Oleh Yoseph Kelik


PARI bakar
KUALA Tungkal si ibukota Kabupaten Tanjung Jabung Barat (Tanjabbar) boleh jadi sebuah kota yang kecil saja ukurannya. Penduduknya total sekitar 50 ribu orang saja. Berkeliling setiap sudut dan ujungnya pun mungkin cukup dikhatamkam dalam waktu sejam atau sejam setengah.

Namun, kota yang berjarak sekitar 130 kilometer arah timur laut Kota Jambi ini sebenarnya memiliki  spot-spot kuliner menarik. Itu  terlebih lagi dalam soal hidangan laut alias seafood. Maklumlah, kota ini terletak di muara Sungai Pengabuan dan tergolong pula kota pelabuhan

Sepuluh hari lamanya di tengah Oktober 2012, dari tanggal 12 siang sampai dengan tanggal 21 malam, saya sempat berada di kota bandar kecil di pantai timur Sumatera ini. Saya berada di kota yang bisa dijangkau dengan perjalanan mobil selama sekitar tiga jam dari Kota Jambi itu dalam rangka penugasan dari kantor tempat saya bekerja.

Selama di sana, saya tentu saja meluangkan waktu menyambangi tempat-tempat makan penyedia olahan seafood. Mumpung kan... Itu antara lain saya sempatkan bersama sejumlah rekan pada Jumat malam, 12 Oktober, juga pada tiga hari terakhir mulai Jumat siang, 19 Oktober  sampai dengan Minggu sore, 21 Oktober. Tercatat sekitar lima spot kuliner yang saya sambangi ketika itu. Aneka hidangan dari mulai kerang tumis, cumi asam pedas, ikan senangin goreng, hingga ikan pari bakar sempat saya jajal ketika itu.

Kamis, 01 Maret 2012

Karena Sampai Tengah Malam dan Mudah Parkirnya


Oleh Yoseph Kelik


EKS Bioskop Murni (foto diambil dari dari koleks akun Bentang Waktu di situ panoramio.com)


SEINGAT wartawan senior Thomas P Sirait (71), kawasan Murni sepanjang jalan Sultan Agung, Kota Jambi, tepatnya di seputaran Sentral Yamaha Sabang Raya Motor dan Studio RRI Pro 2 FM, telah berkembang menjadi sebuah area konstrasi tempat makan sejak medio 1976. Awalnya perkembangannya banyak didorong oleh keberadaan Bioskop Murni, yang telah tutup pada awal 2000-an dan kini berganti fungsi menjadi toko mebel Murni Baru alias Cikindo. Thomas menceritakan hal ini lewat perbincangan telepon dengan saya pada Sabtu sore, 29 Oktober 2011 lalu.

Senin, 05 Desember 2011

Ikan Senggung dan Eksotisme dari Kesederhanaan (Sebuah Tulisan tentang Makanan Khas Jambi)

Oleh Yoseph Kelik


IKAN senggung ketika dimasak di atas bara kecil.
(foto oleh Hanif Burhani, diambil dari situs tribunjambi.com)
LEBIH baik jangan coba mencari menu ikan senggung di berbagai restoran atau warung makan di Kota Jambi. Hampir pasti adalah perjuangan sias-sia yang bakal membikin anda pusing tujuh keliling.


Menu olahan ikan ini memang tidak tersedia di restoran maupun warung makan umumnya. Namun, saya rasa anda tak bakal menyesal jika sampai bisa mencicipi menu khas Jambi ini, yang memang terbilang istimewa dari segi cara masaknya tersebut.

Senin, 26 September 2011

Nasi Minyak Kari di Malam Jumat

TIKAR dari bahan terpal warna hitam terlihat tergelar di sayap kanan bagian dalam Masjid Raya Magat Sari, Kawasan Pasar Jambi. Terpal itu membentuk satu jalur memanjang yang melintang di atas lantai berkarpet biru tua gelap bergaris-garis kuning.

Dua orang pria paro baya secara bergantian hilir mudik di area bertikar terpal. Mereka menaruh air mineral kemasan gelas di bagian tepian kiri-kanan tikar tersebut. Seorang pria berusia bercelana hitam, berbaju koko putih, serta berpeci putih berdiri mengawasi dua orang tadi dan apa yang mereka lakukan dari jarak sekitar empat langkah. Ia merupakan Haji Abubakar Ahmad, Sekretaris Pengurus Masjid. Sore itu, mereka merupakan bagian dari pihak pengurus masjid yang memersiapkan hidangan buka puasa bersama.

Hari ketika saya berdiri dan mengamati dari satu sudut Masjid Raya Magat Sari itu adalah Kamis, 4 Agustus 2011 sekitar pukul 17.30. Bulan puasa tahun 1432 Hijriyah memang masih sangat muda saat itu, usianya belum sampai sepekan.