Rabu, 31 Juli 2013

Dari Jambi ke Sumatera Barat pada Peralihan November ke Desember

(Sambungan dari tulisan Pinjaman Mobil Sekaligus Pemiliknya sekaligus bagian II tulisan-tulisan catatan perjalanan ke Sumatera Barat dan Sumatera Utara)


Oleh Yoseph Kelik


MOBIL Innova silver milik Pak Jarwadi yang membawa rombongan pelesir ke Sumatera Barat

JUMAT sore, 30 November 2012, adalah waktu keberangkatan bagi rombongan kami, rombongan pelesir yang hendak menonton Pacu Jawi ke Sumatera Barat . Titik kumpul adalah adalah rumah Pak Jarwadi di daerah Bagan Pete di pinggiran Kota Jambi. Saya, Wahyu, serta Wahid sampai di rumah mertua Hanif, kawan sekantor kami, tersebut sekitar pukul 16.30.

Tak seberapa lama setelah sampai, Hanif, saya, Wahyu, juga Wahid, menata tas-tas bawaan di barisan kursi balik belakang mobil Kijang Innova silver yang bakal mengangkut kami ke Sumatera Barat.

Pinjaman Mobil Sekaligus Pemiliknya

(Bagian Pembuka dari tulisan-tulisan cerita perjalanan ke Sumatera Barat dan Sumatera Utara)

Oleh Yoseph Kelik


DARI kiri ke kanan: saya (Yoseph Kelik), Hanif, Wahid, dan Wahyu

TULISAN ini sebenarnya sangat telat saya kerjakan. Seharusnya saya sudah menuliskannya sekitar tujuh bulan silam. Soalnya, ini adalah satu cerita tentang perjalanan semacam tamasya dari Jambi ke Sumatera Barat, yang telah berlangsung pada penghujung 30 November -2 Desember 2012. Namun, dengan berpedoman kepada ungkapan populer “lebih baik telat dari pada tidak sama sekali”, akhirnya saya bikin juga catatan cerita perjalanan tersebut.

Perjalanan ke Sumatera Barat tersebut muncul dari ide rekan sekantor saya kala itu, Hanif. Suatu hari, di antara tanggal-tanggal yang dipunyai bulan Oktober 2012, dia berbagi info tentang adanya event Pacu Jawi,

Kamis, 13 Juni 2013

Pesantren Tegalrejo: Lautan di Lereng Merbabu

(Tulisan ini sebelumnya merupakan laporan reportase lapangan pada 2007 untuk Yayasan Desantara. Untuk pemuatan di blog ini, ada sejumlah pengeditan minor yang dilakukan)


Oleh Yoseph Kelik


PERSIAPAN event Pawiyatan
Budaya Adat  2007 (foto dari desantara.or.id)
PAWIYATAN Budaya Adat (PBA) di rangkaian acara khataman Pesantren Tegalrejo tak ubahnya sebuah festival rakyat. Semua yang hadir dan terlibat punya tafsir dan juga kepentingan sendiri atas festival itu. Lebih dari itu, acara ini menjadi ruang untuk saling bertukar dan saling menyerap antara berbagai kelompok dari kalangan yang berbeda.

“Papan mriki niku ibaratipun segoro. Ireng ditompo, putih nggih ditompo (Tempat ini itu seperti lautan. Hitam diterima, putih juga diterima).”

Ibarat lautan yang bersedia menampung beraneka warna. Begitulah Walno memberikan satu komentar singkatnya tentang perhelatan tahunan PBA di lingkungan API Pondok Pesantren Tegalrejo, Magelang.

Sabtu, 08 Juni 2013

Bermula dari Kemben dan Kerudung

(Sambungan dari tulisan Antara Jilbab Lebar dan Jilbab Rapat. Sekaligus juga bagian III dari tiga tulisan yang semula berjudul Gerak Merayap Penutupan Aurat: Catatan Dari Foto-Foto Masa Lalu, dan pernah dimuat di Jurnal Perempuan dan Multikulturalisme, Srinthil, edisi 17, diterbitkan oleh Desantara Foundation Jakarta pada Mei 2009)


Oleh Yoseph Kelik


FATMAWATI Soekarno sedang mengenakan kerudung (foto diunduh dari merdeka.com)

PALING tidak di Jawa hingga akhir 1970-an, kerudung menempati posisi yang kira-kira dimiliki oleh jilbab saat ini, yakni sebagai busana yang dianggap paling ideal untuk dikenakan oleh para perempuan Muslim.

Sabtu, 01 Juni 2013

Antara Jilbab Lebar dan Jilbab Rapat

(Sambungan dari tulisan Jilbab, Arustama Baru Tampilan Perempuan Indonesia. Sekaligus juga bagian II dari tiga tulisan yang semula berjudul Gerak Merayap Penutupan Aurat: Catatan Dari Foto-Foto Masa Lalu, dan pernah dimuat di Jurnal Perempuan dan Multikulturalisme, Srinthil, edisi 17, diterbitkan oleh Desantara Foundation Jakarta pada Mei 2009)


Oleh Yoseph Kelik
JILBAB (foto diunduh dari www.tempo.co)


SETIDAKNYA dari foto setengah badan mereka, jenis jilbab para wisudawati UGM pada kurun 1991 hingga 2006 dapat dipilah menjadi dua tipe besar.