Tampilkan postingan dengan label ugm. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ugm. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 01 Juni 2013

Antara Jilbab Lebar dan Jilbab Rapat

(Sambungan dari tulisan Jilbab, Arustama Baru Tampilan Perempuan Indonesia. Sekaligus juga bagian II dari tiga tulisan yang semula berjudul Gerak Merayap Penutupan Aurat: Catatan Dari Foto-Foto Masa Lalu, dan pernah dimuat di Jurnal Perempuan dan Multikulturalisme, Srinthil, edisi 17, diterbitkan oleh Desantara Foundation Jakarta pada Mei 2009)


Oleh Yoseph Kelik
JILBAB (foto diunduh dari www.tempo.co)


SETIDAKNYA dari foto setengah badan mereka, jenis jilbab para wisudawati UGM pada kurun 1991 hingga 2006 dapat dipilah menjadi dua tipe besar.

Selasa, 28 Mei 2013

Jilbab, Arustama Baru Tampilan Perempuan Indonesia



(Bagian I dari tiga tulisan. Sebelumnya pernah dimuat dengan judul Gerak Merayap Penutupan Aurat: Catatan Dari Foto-Foto Masa Lalu di Jurnal Perempuan dan Multikulturalisme, Srinthil, edisi 17, diterbitkan oleh Desantara Foundation Jakarta pada Mei 2009)




Oleh Yoseph Kelik
JILBAB di sampul tabloid (foto oleh Franciska Anistiyati)

SEPOTONG halo bersambung selamat siang terucap di bawah pengaruh kental sebuah aksen asing. Bibir seorang perempuan bule paro baya merupakan muasalnya. Sekumpulan anak muda yang tengah sibuk mengerjakan praktek fotografi menjadi tujuannya. Selepas saling bertukar senyum, dua pihak tersebut lantas berbincang sejenak dalam bahasa Indonesia, yang banyak bercampur bahasa Inggris. Usut punya usut, perempuan kulit putih berambut coklat pendek itu bermaksud untuk memotret beberapa orang dari kumpulan yang disapanya.

Moslem girls.”

Si perempuan bule memberi penjelasan lebih lanjut dalam bahasa Inggris yang kentara berlogat Jerman atau Belanda

Minggu, 10 Maret 2013

Sandal Jepit: Resminya Dibenci, Senyatanya Disukai

Oleh Yoseph Kelik
SANDAL jepit (foto diunduh dari deltakirana.devianart.com)

BAGI kaki-kaki bersandal jepit, pintu-pintu kantor di Indonesia bukanlah benda yang rela menjadi pintu biasa. Pintu-pintu itu lebih memilih berlaku layaknya gerbang perbatasan dari suatu negeri tak ramah. Begitu enggan mengizinkan wilayah di sebalik pintu untuk dilongok, apa lagi dikunjungi, oleh kaki-kaki bersandal jepit. Seolah si pintu adalah garis lintang utara 38 derajat, sedangkan  wilayah di sebalik pintu itu adalah Korea Utara.

Penegas status sebagai perbatasan itu lazimnya adalah plakat atau tempelan kertas, berisi larangan penggunaan sandal jepit.