Tampilkan postingan dengan label jilbab. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label jilbab. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 08 Juni 2013

Bermula dari Kemben dan Kerudung

(Sambungan dari tulisan Antara Jilbab Lebar dan Jilbab Rapat. Sekaligus juga bagian III dari tiga tulisan yang semula berjudul Gerak Merayap Penutupan Aurat: Catatan Dari Foto-Foto Masa Lalu, dan pernah dimuat di Jurnal Perempuan dan Multikulturalisme, Srinthil, edisi 17, diterbitkan oleh Desantara Foundation Jakarta pada Mei 2009)


Oleh Yoseph Kelik


FATMAWATI Soekarno sedang mengenakan kerudung (foto diunduh dari merdeka.com)

PALING tidak di Jawa hingga akhir 1970-an, kerudung menempati posisi yang kira-kira dimiliki oleh jilbab saat ini, yakni sebagai busana yang dianggap paling ideal untuk dikenakan oleh para perempuan Muslim.

Sabtu, 01 Juni 2013

Antara Jilbab Lebar dan Jilbab Rapat

(Sambungan dari tulisan Jilbab, Arustama Baru Tampilan Perempuan Indonesia. Sekaligus juga bagian II dari tiga tulisan yang semula berjudul Gerak Merayap Penutupan Aurat: Catatan Dari Foto-Foto Masa Lalu, dan pernah dimuat di Jurnal Perempuan dan Multikulturalisme, Srinthil, edisi 17, diterbitkan oleh Desantara Foundation Jakarta pada Mei 2009)


Oleh Yoseph Kelik
JILBAB (foto diunduh dari www.tempo.co)


SETIDAKNYA dari foto setengah badan mereka, jenis jilbab para wisudawati UGM pada kurun 1991 hingga 2006 dapat dipilah menjadi dua tipe besar.

Selasa, 28 Mei 2013

Jilbab, Arustama Baru Tampilan Perempuan Indonesia



(Bagian I dari tiga tulisan. Sebelumnya pernah dimuat dengan judul Gerak Merayap Penutupan Aurat: Catatan Dari Foto-Foto Masa Lalu di Jurnal Perempuan dan Multikulturalisme, Srinthil, edisi 17, diterbitkan oleh Desantara Foundation Jakarta pada Mei 2009)




Oleh Yoseph Kelik
JILBAB di sampul tabloid (foto oleh Franciska Anistiyati)

SEPOTONG halo bersambung selamat siang terucap di bawah pengaruh kental sebuah aksen asing. Bibir seorang perempuan bule paro baya merupakan muasalnya. Sekumpulan anak muda yang tengah sibuk mengerjakan praktek fotografi menjadi tujuannya. Selepas saling bertukar senyum, dua pihak tersebut lantas berbincang sejenak dalam bahasa Indonesia, yang banyak bercampur bahasa Inggris. Usut punya usut, perempuan kulit putih berambut coklat pendek itu bermaksud untuk memotret beberapa orang dari kumpulan yang disapanya.

Moslem girls.”

Si perempuan bule memberi penjelasan lebih lanjut dalam bahasa Inggris yang kentara berlogat Jerman atau Belanda