Tampilkan postingan dengan label jawa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label jawa. Tampilkan semua postingan

Senin, 06 Juli 2015

Antara Lara Jonggrang dan Katniss Everdeen

Oleh Yoseph Kelik

KATNISS Everdeen (foto dari giphy.com)

LANGSING
, tinggi, juga memiliki lekuk-lekuk badan yang elok. Sekalipun dari jauh pesonanya tetaplah kentara. Karena itu, belasan tahun bolak-balik melintasi jalan raya utama antara Jogja dan Klaten, ratusan kali sudah saya terpancing menolehkan kepala kepada sosok molek serta anggun ini. Apa lagi, sosok tadi saban hari memang selalu betah berdiri di sisi utara jalan, tak seberapa jauh juga dari aliran Sungai Opak.

Apa saya sedang bercerita tentang cewek, dengan kualifikasi model dan semacamnya? Maaf, bukan. Hmmm memang yakin ada cewek cakep doyan ngetem di pinggir jalan raya antar provinsi sekaligus di pinggir kali? Yah, kecuali yang bersangkutan adalah kondektur bus yang kebetulan cantik atau malah ternyata semacam Si Manis Jembatan Ancol Kali Opak...*eh.

Kamis, 13 Juni 2013

Pesantren Tegalrejo: Lautan di Lereng Merbabu

(Tulisan ini sebelumnya merupakan laporan reportase lapangan pada 2007 untuk Yayasan Desantara. Untuk pemuatan di blog ini, ada sejumlah pengeditan minor yang dilakukan)


Oleh Yoseph Kelik


PERSIAPAN event Pawiyatan
Budaya Adat  2007 (foto dari desantara.or.id)
PAWIYATAN Budaya Adat (PBA) di rangkaian acara khataman Pesantren Tegalrejo tak ubahnya sebuah festival rakyat. Semua yang hadir dan terlibat punya tafsir dan juga kepentingan sendiri atas festival itu. Lebih dari itu, acara ini menjadi ruang untuk saling bertukar dan saling menyerap antara berbagai kelompok dari kalangan yang berbeda.

Papan mriki niku ibaratipun segoro. Ireng ditompo, putih nggih ditompo (Tempat ini itu seperti lautan. Hitam diterima, putih juga diterima).”

Ibarat lautan yang bersedia menampung beraneka warna. Begitulah Walno memberikan satu komentar singkatnya tentang perhelatan tahunan PBA di lingkungan API Pondok Pesantren Tegalrejo, Magelang.

Sabtu, 08 Juni 2013

Bermula dari Kemben dan Kerudung

(Sambungan dari tulisan Antara Jilbab Lebar dan Jilbab Rapat. Sekaligus juga bagian III dari tiga tulisan yang semula berjudul Gerak Merayap Penutupan Aurat: Catatan Dari Foto-Foto Masa Lalu, dan pernah dimuat di Jurnal Perempuan dan Multikulturalisme, Srinthil, edisi 17, diterbitkan oleh Desantara Foundation Jakarta pada Mei 2009)


Oleh Yoseph Kelik


FATMAWATI Soekarno sedang mengenakan kerudung (foto diunduh dari merdeka.com)

PALING tidak di Jawa hingga akhir 1970-an, kerudung menempati posisi yang kira-kira dimiliki oleh jilbab saat ini, yakni sebagai busana yang dianggap paling ideal untuk dikenakan oleh para perempuan Muslim.

Sabtu, 01 Juni 2013

Antara Jilbab Lebar dan Jilbab Rapat

(Sambungan dari tulisan Jilbab, Arustama Baru Tampilan Perempuan Indonesia. Sekaligus juga bagian II dari tiga tulisan yang semula berjudul Gerak Merayap Penutupan Aurat: Catatan Dari Foto-Foto Masa Lalu, dan pernah dimuat di Jurnal Perempuan dan Multikulturalisme, Srinthil, edisi 17, diterbitkan oleh Desantara Foundation Jakarta pada Mei 2009)


Oleh Yoseph Kelik
JILBAB (foto diunduh dari www.tempo.co)


SETIDAKNYA dari foto setengah badan mereka, jenis jilbab para wisudawati UGM pada kurun 1991 hingga 2006 dapat dipilah menjadi dua tipe besar.

Selasa, 28 Mei 2013

Jilbab, Arustama Baru Tampilan Perempuan Indonesia



(Bagian I dari tiga tulisan. Sebelumnya pernah dimuat dengan judul Gerak Merayap Penutupan Aurat: Catatan Dari Foto-Foto Masa Lalu di Jurnal Perempuan dan Multikulturalisme, Srinthil, edisi 17, diterbitkan oleh Desantara Foundation Jakarta pada Mei 2009)




Oleh Yoseph Kelik
JILBAB di sampul tabloid (foto oleh Franciska Anistiyati)

SEPOTONG halo bersambung selamat siang terucap di bawah pengaruh kental sebuah aksen asing. Bibir seorang perempuan bule paro baya merupakan muasalnya. Sekumpulan anak muda yang tengah sibuk mengerjakan praktek fotografi menjadi tujuannya. Selepas saling bertukar senyum, dua pihak tersebut lantas berbincang sejenak dalam bahasa Indonesia, yang banyak bercampur bahasa Inggris. Usut punya usut, perempuan kulit putih berambut coklat pendek itu bermaksud untuk memotret beberapa orang dari kumpulan yang disapanya.

Moslem girls.”

Si perempuan bule memberi penjelasan lebih lanjut dalam bahasa Inggris yang kentara berlogat Jerman atau Belanda

Sabtu, 29 Desember 2012

1 Hari Tak Selalu 24 Jam

Oleh Yoseph Kelik

JAM weker (foto dari www.fantom-xp.com)


SATU hari adalah satuan waktu yang setara dengan 24 jam. Itu adalah
dihitung  sejak selepas tengah malam, dengan sejamnya sepanjang 60
menit. Demikianlah pembagian waktu ala Barat yang menjadi mainstream pada masa
kini.

Aslinya malah dalam tatacara Barat ada pembagian dua terhadap waktu
satu hari, yakni ada AM (Ante Meridiem) dan PM (Past Meridiem). AM
adalah paro pertama yang berlaku dari tengah malam sampai tengah hari,
sedangkan PM adalah paro kedua yang berlaku dari tengah hari hingga
tengah malam.

Hanya saja, pembagian waktu sehari sama dengan 24 jam yang dihitung
mulai dari tengah malam ternyata tak selalu berlaku di semua wilayah
serta zaman.