Minggu, 10 Maret 2013

Sandal Jepit: Resminya Dibenci, Senyatanya Disukai

Oleh Yoseph Kelik
SANDAL jepit (foto diunduh dari deltakirana.devianart.com)

BAGI kaki-kaki bersandal jepit, pintu-pintu kantor di Indonesia bukanlah benda yang rela menjadi pintu biasa. Pintu-pintu itu lebih memilih berlaku layaknya gerbang perbatasan dari suatu negeri tak ramah. Begitu enggan mengizinkan wilayah di sebalik pintu untuk dilongok, apa lagi dikunjungi, oleh kaki-kaki bersandal jepit. Seolah si pintu adalah garis lintang utara 38 derajat, sedangkan  wilayah di sebalik pintu itu adalah Korea Utara.

Penegas status sebagai perbatasan itu lazimnya adalah plakat atau tempelan kertas, berisi larangan penggunaan sandal jepit.

Minggu, 03 Februari 2013

Salut Saya untuk Fans Espanyol hingga Torino

Oleh Yoseph Kelik
 
SUPORTER di stadion sepakbola (foto diunduh dari boutiquebargains.com)

SIAPA fans klub sepak bola paling top sedunia? Menurut saya sih pemilik gelar itu bukan fans Real Madrid, Barcelona, atau Manchester United. Bukan pula fans Chelsea, AC Milan, Inter Milan, atau pun Juventus. Lho, kok bisa?

Bagi saya, nggak mengagumkan apa lagi mengagetkan bahwa klub-klub  tadi sangat populer, lalu punya banyak suporter sampai yang kategori penggemar fanatik. Mereka tadi kan klub-klub yang sering banget dapet gelar juara, entah di level domestik, entah di level regional maupun internasional. Pun klub-klub itu tergolong berkasta super tajir, lebih lagi kalau dibandingkan klub-klub bola Indonesia yang masih suka ngarep kucuran dana APBD.

Fans bola paling keren itu menurut saya justru fans klub-klub semacam Everton, Torino, TSV 1860 Muenchen, Espanyol, dan Atletico Madrid.

Mengelus Dada karena Omongan Daming dan Tawa Para Anggota DPR

Oleh Yoseph Kelik

(foto diunduh dari 123rf.com)
 
SEORANG pria berusia paro abad menghadap kepada para anggota parlemen republik ini pada Senin, 14 Januari 2013. Tuan dan puan yang ia sowani adalah para anggota Komisi III.

Sang pria paro abad itu sendiri adalah seorang hakim senior, menjabat sebagai pemimpin di sebuah Pengadilan Tinggi di satu provinsi di Luar Jawa. Hal yang membuatnya datang ke Senayan pada Senin itu adalah keharusan menjalani uji kepantasan dan kelayakan di hadapan para anggota Komisi III DPR RI dari.

Sabtu, 12 Januari 2013

Mengenang Tintin dan Sebuah Taman Bacaan

KOMIK serial Tintin nomor 22, Penerbangan 714 ke Sidney
Oleh Yoseph Kelik



MEMBACA Tintin: The Complete Companion  mau tak mau ngingetin saya ke zaman masih duduk di bangku SMP. Masa itu terbilang  masa keakraban terintim saya dengan komik-komik serial Tintin. Kala itu, saya  begitu sering menumpang  baca maupun pinjam untuk dibawa pulang  di  satu taman bacaan sekitar 200 meter dari sekolah saya.

Oh ya, nama taman bacaan itu Hendragiri. Lokasinya tepat di sebelah timur Gereja Katolik Santo Yohanes Rasul Wonogiri, Jawa Tengah. Taman bacaan itu termasuk bagian komplek Susteran Carolus Borromeus (CB) di Wonogiri. Pengeloaan taman bacaan tersebut pun ada di tangan para biarawati Katolik.

Tak cuma komik-komik serial Tintin yang dulu kerap saya baca dan pinjam di taman bacaan yang dengar-dengar sekarang sudah tutup itu.

Tintin, Wartawan yang Nyaris Tak Pernah Mengetik Berita


BUKU Tintin: The Complete Companion edisi bahasa Indonesia
Oleh Yoseph Kelik


PADA pekan pertama dan kedua Januari 2013 ini, saya sedang sedang membaca Tintin: The Complete Companion tulisan Michael Farr. Ini adalah buku panduan dan analisis terhadap serial komik Tintin kreasi komikus Belgia, Herge yang bernama asli Georges Remi. Versi yang saya baca adalah edisi berbahasa Indonesia terbitan 2011 dari Gramedia Pustaka Utama. Buku 205 halaman ini adalah hasil penerjemahan dari edisi berbahasa Inggris cetakan 2001 milik Penerbit Moulinsart.

Tintin: The Complete Companion membahas secara lengkap seluruh komik “anggota keluarga besar” serial bertokoh utama wartawan berambut jambul itu. Farr mengulas secara rinci mulai dari seri pertama terbitan 1929, Petualangan Tintin di Tanah Sovyet, sampai dengan yang  terakhir alias seri kedua puluh empat, Tintin dan Alpha-Art, yang pengerjaannya belum rampung ketika Herge meninggal dunia pada 1983.

Dalam buku panduan ini, hampir setiap seri komik Tintin beroleh satu bab khusus untuk pembahasannya.