Minggu, 12 Oktober 2014

Kisah 10 Abad Eksistensi Kaum Tionghoa di Nusantara

(Risalah dan Tinjauan atas buku Peranakan Tionghoa  di Nusantara: Catatan Perjalanan dari Barat ke Timur tulisan Iwan Santosa)


Oleh: Yoseph Kelik
SAMPUL depan buku Peranakan Tionghoa di Nusantara (foto diambil dari situs aspertina.org)

AWALNYA adalah serangkaian artikel yang terbit mulai dari 13 Agustus 2002 sampai dengan 21 Januari 2012 di koran KOMPAS. Totalnya ada 65 artikel yang penulisannya melibatkan 24 jurnalis tulis maupun foto.

Senin, 25 Agustus 2014

Bhinneka Tunggal Ika, Tan Hana Dharma Mangrva

Oleh Yoseph Kelik

GARUDA Pancasila dan semboyan Bhinneka Tunggal Ika (gambar diambil dari en.wikipedia.org)

SAYA rasa umumnya Indonesia mengakrabi kata-kata Bhinneka Tunggal Ika. Soalnya kata-kata tersebut sejak 1950 ditahbiskan sebagai semboyan negara Indonesia, pun lantas turut dicantumkan dalam lambang negara Garuda Pancasila, tepatnya pada bagian pita yang dicengkeram oleh dua kaki si burung garuda.

Perihal semboyan Bhinneka Tunggal Ika setahu saya juga diulang-ulang dalam berbagai pelajaran di sekolah. Perulangan tersebut berlangsung pula saban tahun di berbagai tingkatan kelas. Karena itu saya lebih cenderung yakin kalau orang-orang Indonesia sampai hafal bahwa semboyan Bhinneka Tunggal Ika itu berasal dari kutipan dalam Sutasoma, kitab kuno hasil tulisan Empu Tantular dari zaman Majapahit. Tafsir versi resmi dalam bahasa Indonesia dan bahasa Inggris dari pihak Pemerintah terhadap Bhinneka Tunggal Ika, yang aslinya merupakan bagian dari  khazanah bahasa Sansekerta, sehingga menjadi "Berbeda-beda, Tetapi Menyatu" dan "Unity in Diversity"  pun rasanya nancep di memori orang-orang Indonesia.

Hanya saja, boleh jadi tak semua orang menyadari bahwa Bhinneka Tunggal Ika sejatinya adalah sebuah kalimat yang terpenggal.

Jumat, 06 Desember 2013

Karena Masing-Masing Topi Punya Namanya Sendiri


(Pernah dimuat dalam dua seri dengan judul Jangan Cuma Sebut Semuanya Topi di Harian Pagi Tribun Jambi edisi Minggu pada 30 September 2012 serta 7 Oktober 2012)

Oleh Yoseph Kelik
VARIASI bentuk topi (foto dari fogcommunication.com)
JIKA ada pertanyaan apa nama tudung penutup kepala? Banyak orang tentu bakal cepat menyebutkan satu kata dengan empat huruf yakni topi. Gampang banget kan?
Hmmm, sepintas memang begitu. Namun, urusannya bakal lain jika mesti menyebut jenis topi yang dipakai seseorang. Sebab, kenyataannya topi itu begitu banyak macamnya.

Senin, 25 November 2013

Mengingat Tesla, Edison, dan Jobs

Oleh Yoseph Kelik


BOHLAM yang kerap menjadi simbol dari ide (foto dari telegraph.co.uk)
DI tengah Amerika Utara, seorang ilmuwan paro baya membangun laboratoriumnya pada pinggir sebuah kota kecil. Pria tadi bereksperimen dengan pembangkit listrik dan jaringannya, membuat kota kecil yang ditinggalinya lantas bermandi cahaya di malam hari.

Semua tadi berlangsung pada tahun-tahun di kuartal terakhir abad XIX. Kala itu, berkah penerangan oleh listrik belumlah jadi menjadi suatu konsumsi massal, apa lagi global. Karena itu, apa yang diperbuat si ilmuwan bagi si kota kecil adalah layaknya mukjizat.

Jumat, 22 November 2013

Empat Rekan Sekantor dan Seorang Mertua Menonton Pacu Jawi

(Sambungan dari tulisan Dari Jambi ke Sumatera Barat pada Peralihan November ke Desember sekaligus bagian III tulisan-tulisan catatan perjalanan ke Sumatera Barat dan Sumatera Utara.)


Oleh Yoseph Kelik
SAPI peserta pacu jawi di Jorong Gurun, Tanah Datar, Sumatera Barat

PERJALANAN yang berawal dari Kota Jambi itu memakan waktu total hampir 14 jam. Setelah bermobil selama itu, saya, Hanif, Wahyu, Wahid, serta Pak Jarwadi akhirnya sampai di Jorong Gurun, Nagari Gurun, Kecamatan Sungai Tarab, Kabupaten Tanah Datar, Provinsi Sumatera Barat. Semua itu adalah berkah panduan Google Maps, tapi ditambah beberapa kali bertanya kepada orang di pinggir jalan.