|
Usai melahap satu tanjakan, dari entah sekian tanjakan di daerah di lereng Gunung Marapi tersebut, bus kemudian berhenti. Umumnya penumpang mengira bus sekadar berhenti sekadar karena berpapasan dengan kendaraan lain dari arah depan, juga mesti memberi jalan kepada mobil itu.
Seorang perempuan muda anggota rombongan kami menoleh ke satu rumah yang berdiri di sisi kiri jalan. Rumah itu sungguh mampu mencuri perhatian. Bentuk bangunannya adalah khas Tanah Minang yakni berupa rumah gadang, tapi dalam versi kecil. Atapnya memiliki total lima lengkungan meruncing seperti tanduk, yakni masing-masing dua di kiri dan dua di kanan, juga satu di depan. Warna merah yang berpadu ornamen warna-warni, plus pola garis-garis vertikal keemasan, menghiasi dinding-dinding rumah itu.