Rabu, 16 November 2011

Ancelotti Tak Lagi Banyak Mencari

Bagian Ketiga dari Tiga Tulisan Profil Tentang Carlo Ancelotti


Oleh Yoseph Kelik

VERSI tua dan muda dari Carlo Ancelotti (foto diambil dari static.guim.co.uk)
SAYANGNYA untuk sementara ini, saya dan juga anda sedang tak bisa menyaksikan Ancelotti meracik taktik untuk sebuah tim di jagat sepakbola. Sejak dipecat Roman Abramovich dari kursi pelatih Chelsea pada akhir musim 2010/2011, Carletto memilih mengambil cuti dari keriuhan dunia sepakbola yang juga penuh tekanan. Medio November 2011 ini, Carletto memilih menolak tawaran menukangi klub Prancis Paris Saint Germain (PSG), satu di antara klub Eropa yang sedang ambisius membangun kekuatan setelah beroleh suntikan petrodolar berlimpah dari bangsawan Arab, sama halnya seperti Manchester City di Liga Primer Inggris dan Malaga di Liga Primera Spanyol.


Saya sendiri sekarang seorang yang curiga bahwa sebenarnya tak banyak lagi yang dicari oleh Ancelotti di dunia sepakbola. Ia memang merilis buku autobiografi berjudul Preferisco la Coppa alias I Prefer the Cup, tapi dugaan saya, Ancelotti sebagai pelatih sejatinya tak selapar piala sebagaimana Fergie atau Mou.
Dugaan ini muncul begitu melihat permainan Milan cenderung menurun pasca memenangkan Liga Champions 2006/2007. Saya melihat mulai saat itu, Ancelotti kehilangan determinasi dan kretivitasnya dalam menukangi Milan. Pada musim 2007/2008, apa yang saya sebut hilangnya determinasi Ancelotti tadi belum terlalu kentara. Ancelotti masih mampu menyumbang dua trofi penting yakni Piala Super Eropa dan Piala Dunia Antarklub FIFA.  Tapi, ingat juga bahwa musim ini Milan tergelincir ke posisi finish di urutan 5 klasemen akhir Seri A. Lalu, pada Liga Champions musim itu, Milan gagal melewati hadangan Arsenal di babak 16 besar.


Namun, musim terakhirnya di Milan yakni musim 2008/2009, meski posisi akhir liga membaik dua peringkat, tapi musim ini berakhir tanpa raihan gelar. Geliat Milan di Piala UEFA berakhir di tangan Werder Bremen pada babak 16 besar.


Dua musim tak terlalu moncer di bagian akhir karir kepelatihan Ancelotti di Milan boleh jadi bakal disebut orang karena pengaruh tak adanya pemain baru signifikan yang mampu menjadi suntikan darah segar. Namun, dengan stok pemain yang kurang lebih sebanding pun sebenarnya Milan mampu mencapai final dan bahkan memenangkan Liga Champions 2006/2007. Saya kok lebih melihat bahawa Ancelotti kala itu sudah tidak termotivasi untuk menukangi Milan. Hei ingat, selama delapan musim di Milan, delapan gelar yang disumbang Ancelotti sudah memuat semua piala yang dianggap mentereng bagi seorang pelatih klub. Ia pernah memenangi Seri A, dua kali merebut Champions, juga sukses meraih Piala Dunia Antarklub. Satu-satunya piala penting yang belum diraihnya selama menukangi Milan cuma UEFA Cup atau yang kini dinamai Piala Liga Europa. Namun, bagi banyak klub besar dan pelatih besar, piala satu ini selalu dianggap piala kelas dua di level Eropa. Ancelotti boleh jadi tak terlalu termotivasi merebutnya biarpun berkompetisi di sana pada musim 2008/2009. Pada dua musim itu, motivasinya membuktikan diri sebagai pelatih hebat sudah tuntas di Milan. Ingat sewaktu awal dia datang ke Milan, ia kerap terbebani citra sebagai pelatih semenjana, yang cuma spesialis runner up sebagaimana menjadi catatan prestasinya selama dua musim di Juventus antara 1999 sampai dengan 2001. Citra pelatih spesialis runner up itu akhirnya sukses dibuang jauh-jauh Ancelotti dengan rentetan kesuksesannya di Milan antara 2003 sampai dengan 2008.


Prestasi Ancelotti kembali membaik begitu menukangi Chelsea. Dalam dua musim yakni 2009/2010 serta 2010/11. Di sana ia tercatat menyumbang tiga gelar yakni Community Shield 2009, juga gelar ganda Liga Primer Inggris 2009/2010 dan Piala FA 2009/2010. Menurutnya, hal yang paling membuatnya termotivasi menukangi Chelsea adalah memberi pembuktian bahwa ia adalah pelatih Italia yang bisa sukses di luar Italia. 


Oh ya, biarpun Abramovich mengontrak Ancelotti dengan target memenangi Liga Champions, saya cenderung menduga bahwa Ancelotti secara pribadi tak terlalu benar-benar tersemangati memenuhi target itu. Hei dia sudah pernah memenangi Champions dua kali sebagai pelatih dan dua kali juga sebagai pemain. Sensasi memenangi Champions yang sudah sering ia menangi boleh jadi kalah menarik dari memenangi Liga Primer Inggris dan Piala FA, yang di atas kertas memang kalah mentereng dari Champions, tapi sebelum tahun 2010 belum pernah dimenangi oleh Ancelotti  

Memenangi tiga trofi di Chelsea dalam dua musim, biarpun itu tidak termasuk Champions, itu artinya memiliki rata-rata raihan piala 1,5 per musim alias 0,5 poin di atas rata-rata raihan piala per tahunnya selama delapan musim di Milan yakni 1,0 membuktikan bahwa ia memang piala yang dekat dengan prestasi.

Nah, saya menduga hal yang bakal memotivasi Ancelotti untuk melatih kembali dan berprestasi kembali, sebagaimana ketika ia masuk ke Milan pada tengah musim 2001/2002, juga ketika berpindah dari Milan ke Chelsea pada medio 20009, cuma sekitar empat posisi lagi. Pertama dari semua itu adalah kursi pelatih di Liga Primera Spanyol sebagaimana Fabio Capello melakukannya dan menuai prestasi juara liga bersama Real Madrid pada musim 1996/1997 dan musim 2006/2007, boleh jadi memang kursi pelatih Real Madrid pasca Mourinho nantinya memang yang menarik untuk Ancelotti. Kedua, Ancelotti saya rasa bakal tertarik untuk menukangi satu lagi klub Italia selain Milan, dan tebakan saya untuk itu adalah AS Roma, klub tempat ia delapan musim berkarir sebagai pemain plus meraih lima piala antara 1979 sampai dengan 1987. Ketiga, boleh jadi ia memang benar tertarik menukangi satu klub elit Liga Primer Inggris, mungkin sebagai pembuktian bahwa ia sebenarnya tak pantas dipecat oleh Abramovich pada akhir musim lalu. Namun, saya yakin sebenarnya yang paling diincar Ancelotti untuk menggenapkan reputasinya sebagai pelatih hebat adalah allenatore Tim Nasional Italia. Ingat piala apa lagi yang cukup prestisius untuk ditambahkan Ancelotti ke daftar prestasinya selain Piala Dunia FIFA dan Piala Eropa? (TAMAT)




Artikel Berkaitan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar