Jumat, 06 Februari 2015

Bukan Cuma Dialami Agus dan Sheila...

Oleh Yoseph Kelik

Film Palak Memalak (foto dari kampunghalaman.org)

 “SAYA sangat senang berada di sekolah favorit seperti  ini.”

Demikian ucap seorang remaja pria bernama Agus tentang perasaannya dapat bersekolah di SMK Negeri 5 Makassar, yang lebih beken di kalangan warga Makassar dengan sebutan STM Pembangunan.

Namun, kenyataannya hari-hari Agus di sekolahnya tak selalu benar-benar terasa menyenangkan. Ia dan kawan-kawannya sesama murid kelas I alias tingkat terbawah tak jarang dimintai uang secara paksa oleh para seniornya dari kelas III. Dalih yang dipakai para kakak kelas itu adalah sodoran stiker yang harus dibeli atau brosur-brosur maupun kegiatan yang pembiayaannya mesti disumbang.

Minggu, 28 Desember 2014

Natal, Celoteh Tentangnya

Oleh Yoseph Kelik


Natal adalah...
Momen ketika sosok berjanggut dan bermantel merah merebut jatah posisi milik seorang bayi dalam palungan.
Juga ketika kandang domba penampung Maria dan Yusuf dikalahkan oleh cemara plastik berpucuk bintang imitasi dan berbuah bola-bola warna-warni.


*Dari 2 buah twit di akun @sephkelik pada 24 Desember 2014. 

Minggu, 12 Oktober 2014

Kisah 10 Abad Eksistensi Kaum Tionghoa di Nusantara

(Risalah dan Tinjauan atas buku Peranakan Tionghoa  di Nusantara: Catatan Perjalanan dari Barat ke Timur tulisan Iwan Santosa)


Oleh: Yoseph Kelik
SAMPUL depan buku Peranakan Tionghoa di Nusantara (foto diambil dari situs aspertina.org)

AWALNYA adalah serangkaian artikel yang terbit mulai dari 13 Agustus 2002 sampai dengan 21 Januari 2012 di koran KOMPAS. Totalnya ada 65 artikel yang penulisannya melibatkan 24 jurnalis tulis maupun foto.

Senin, 25 Agustus 2014

Bhinneka Tunggal Ika, Tan Hana Dharma Mangrva

Oleh Yoseph Kelik

GARUDA Pancasila dan semboyan Bhinneka Tunggal Ika (gambar diambil dari en.wikipedia.org)

SAYA rasa umumnya Indonesia mengakrabi kata-kata Bhinneka Tunggal Ika. Soalnya kata-kata tersebut sejak 1950 ditahbiskan sebagai semboyan negara Indonesia, pun lantas turut dicantumkan dalam lambang negara Garuda Pancasila, tepatnya pada bagian pita yang dicengkeram oleh dua kaki si burung garuda.

Perihal semboyan Bhinneka Tunggal Ika setahu saya juga diulang-ulang dalam berbagai pelajaran di sekolah. Perulangan tersebut berlangsung pula saban tahun di berbagai tingkatan kelas. Karena itu saya lebih cenderung yakin kalau orang-orang Indonesia sampai hafal bahwa semboyan Bhinneka Tunggal Ika itu berasal dari kutipan dalam Sutasoma, kitab kuno hasil tulisan Empu Tantular dari zaman Majapahit. Tafsir versi resmi dalam bahasa Indonesia dan bahasa Inggris dari pihak Pemerintah terhadap Bhinneka Tunggal Ika, yang aslinya merupakan bagian dari  khazanah bahasa Sansekerta, sehingga menjadi "Berbeda-beda, Tetapi Menyatu" dan "Unity in Diversity"  pun rasanya nancep di memori orang-orang Indonesia.

Hanya saja, boleh jadi tak semua orang menyadari bahwa Bhinneka Tunggal Ika sejatinya adalah sebuah kalimat yang terpenggal.

Jumat, 06 Desember 2013

Karena Masing-Masing Topi Punya Namanya Sendiri


(Pernah dimuat dalam dua seri dengan judul Jangan Cuma Sebut Semuanya Topi di Harian Pagi Tribun Jambi edisi Minggu pada 30 September 2012 serta 7 Oktober 2012)

Oleh Yoseph Kelik
VARIASI bentuk topi (foto dari fogcommunication.com)
JIKA ada pertanyaan apa nama tudung penutup kepala? Banyak orang tentu bakal cepat menyebutkan satu kata dengan empat huruf yakni topi. Gampang banget kan?
Hmmm, sepintas memang begitu. Namun, urusannya bakal lain jika mesti menyebut jenis topi yang dipakai seseorang. Sebab, kenyataannya topi itu begitu banyak macamnya.