Rabu, 18 April 2012

Antara Tiki Taka, Zidane, Pirlo, dan Beckham (Bagian I)

Oleh Yoseph Kelik
PERAYAAN FC Barcelona usai memenangkan trofi Liga Champions 2010/2011
(foto dari http://wikinewforum.com/showthread.php?t=106847#.T46cKbM9Xp8)
TIKI taka, siapa penggila sepakbola yang tak mengenalnya? Model permainan sepakbola menyerang  ala Barcelona dan pelatih Josep "Pep" Guardiola tersebut rasanya model permainan paling menyedot atensi orang saat ini. Jika meminjam kosakata dunia per-twitter-an, tiki taka agaknya pantas disebut sebagai satu trending topic dunia sepakbola, yang popularitasnya belum juga surut dalam kurun lima tahun terakhir ini.

Status trending topic si tiki taka tersebut tak bisa tidak datang dari perhatian dan perbincangan terus menerus orang. Dari mulai penggunaan umpan-umpan pendek sebagai basis permainan, terciptanya dominasi luar biasa sepanjang jalannya pertandingan terhadap semua tim yang dihadapinya, hingga tentang keberadaan pemain-pemain cerdas lagi ber-skill luar biasa, siapa lagi kalau bukan  Xavi, Iniesta, pula tentu saja Lionel Messi.

Dua Huruf K
Itu tadi, sisi terang dari popularitas tiki taka. Hmmm, selain sisi terang tadi, tiki taka terutama di mata para pendukung klub non Barca, terlebih lagi pendukung klub kompetitor dari Barca, tentunya punya sisi gelap. Sisi gelap itu bagi orang-orang non Cules kerap dikaitkan dengan dua huruf K, yang pertama kontroversi, yang kedua konspirasi.

Pengaitan Barcelona dan tiki taka-nya dengan dua K tadi oleh kaum non Cules biasanya merujuk kepada beberapa laga yang pernah dilakoni Azulgrana di level domestik Spanyol, maupun di level Eropa, terutama lagi menyorot sejumlah insiden di dalamnya. Pertandingan-pertandingan yang dipakai kaum non Cules sebagai bukti klaim 2K atas Barcelona paling tidak ada lima.

Pertama adalah partai tandang versus Chelsea dalam leg II semi final II Liga Champions 2008/2009 pada 6 Mei 2009. Dalam laga berskor akhir 1-1 itu, hal yang kontroversial menurut klaim para pemain dan pendukung The Blues ialah tindakan wasit Tom Henning Ovrebo yang mengabaikan sejumlah pelanggaran oleh pemain Barcelona di kotak penalti  tim Catalan itu, yang seharusnya bisa mendatangkan lima hadiah penalti untuk Chelsea.

Kedua adalah partai kandang versus Inter Milan dalam leg II semi final Liga Champions 2009/2010 pada 24 April 2010. Barcelona butuh mengejar defisit dua gol yang terjadi akibat kekalahan 1-3 yang mereka alami di San Siro pada leg I.  Dalam pertandingan yang akhirnya cuma berakhir dengan kemenangan 1-0 untuk Barcelona ini, hal kontroversial yang terjadi adalah dikartumerahnya gelandang Inter, Thiago Motta. Motta terusir dari lapangan karena dianggap wasit telah mengasari Sergio Busquets. Nyatanya, rekaman video pertandingan itu jika diputar di bagian Busquets konon dikasari justru menunjuk serangkaian akting dari gelandang bertahan Barcelona itu: dari mulai pelanggaran yang bisa sangat diperdebatkan, hingga kepada aksi intipan mata Busquet melalui sela-sela kedua tangannya, ketika tubuhnya masih terbaring di lapangan dan tangannya menutupi wajah, menunjukkan ekspresi "kesakitan" versinya.

Ketiga adalah partai kandang versus Arsenal dalam leg II babak 16 besar alias perdelapan final Liga Champions 2011 pada 8 Maret 2010/2011. Dalam partai yang dimenangkan Barcelona 3-1 tersebut, Robin van Persie dikartu merah oleh wasit setelah menerima kartu kuning kedua. RvP dianggap tidak mengindahkan tiupan peluit dari wasit, tanda bahwa dia telah berada dalam posisi off side, tapi malah terus menendang bola ke arah gawang Barcelona. Terusirnya RvP itu dianggap memberi keuntungan kepada Barca yang butuh menambah gol. Lepas dari soal benar atau tidak, RvP mengaku di depan media bahwa ia tidak mendengar tiupan peluit wasit

Keempat adalah partai tandang versus Real Madrid dalam leg I semi final Liga Champions 2010/2011 pada 27 April 2011.Kontroversi pertandingan ini bersangkut paut dari mulai kartu merah terhadap Pepe pada menit 61 setelah dianggap mengasari Dani Alves. Perdebatannya, Pepe dan pihak Madrid mengklaim bahwa sebenarnya tidak terjadi kontak fisik yang membuat ia pantas disebut mengasari Alves.

Kelima adalah partai kandang versus AC Milan dalam babak 16 besar alias perdelapan final Liga Champions 2011/2012 pada 4 April 2012. Kontroversi dalam pertandingan ini bersangkut paut dengan penalti kedua yang diberikan wasit Bjorn Kuipers kepada Barcelona. Penalti itu diberikan kepada Barcelona setelah Nesta menarik kaos Busquets. Perdebatannya ada bahwa kenyataan bahwa bola sepak pojok, sumber kontak fisik antara Nesta dan Busquests, sebenarnya belum lagi benar-benar ditendang. Lalu, Busquets sendiri sedang tidak dalam posisi yang berpotensi mencetak gol. Saya sendiri secara pribadi adalah orang yang dibuat ngomel gara-gara vonis penalti kedua itu.

Beberapa kontroversi tadi menyulut pula tuduhan bahwa Barcelona adalah tim yang memiliki kebijakan menghalalkan penggunaan diving hingga ke tim yang memang dianakemaskan oleh pihak asosiasi sepakbola Eropa, UEFA. Dengan tuduhan tadi, para pembenci Barca di luar negeri kemudian memelesetkan nama Barcelona menjadi Uefacelona. Sesama pembenci Barcelona dari tanah air, ada yang sampai memelesetkan nama Barcelona menjadi nama yang terasa sangat mengejek yakni Bancilona, merujuk kepada mudahnya pemain Barcelona terlihat kesakitan ketika terjadi kontak fisik.

Oh ya, para pembenci Barcelona punya video semacam ini sebagai bukti versi mereka bahwa jagoan Catalan itu menghalalkan diving:


Ejekan Uefacelona dan Bancilona tentu bukan sesuatu yang menyenangkan bagi para Cules. Saya sendiri menganggap plesetan nama semacam itu sesuatu yang sarkastik, bukan sesuatu pantas untuk digunakan apa lagi dibiasakan. Oh ya, saya bukan pendukung Barcelona lho. Saya malah masih uring-uringan jika mengingat bagaimana AC Milan disingkirkan Barcelona dari Liga Champions 2012, awal April lalu dengan skor 1-3. Ya, saya seorang Milanisti, tapi saya bukanlah seorang pembenci Barcelona. Lagi pula, saya pikir sekadar menghina Barcelona tak bakal bikin mereka kalah di dunia nyata.

Saat ini, suka tidak suka, setuju tidak setuju, ledekan Uefacelona maupun Bancilona tak lebih dari sebuah ungkapan iri hati atas raihan prestasi Barcelona. Itu sekaligus pula ekspresi frustrasi karena tak bisa sungguh-sungguh mengimbangi permainan Barcelona.

Hegemoni, Hantu, Tiran
Mesti jujur diakui siapa pun, tiki taka memang  permainan yang sedap dipandang. Harus diakui juga, model permainan ini telah terbukti menghasilkan panenan yang luar biasa. Sejak musim 2008/2009, ketika Barcelona mulai ditukangi Pep Guardiola, reinkarnasi permainan Barcelona era The Dream Team-nya Johann Cruiyff ini, yang mungkin layak juga disebut versi penyempurnaannya, telah berhasil menyumbang 13 koleksi gelar tambahan ke lemari trofi FC Barcelona. Termasuk di antara capaian prestasi itu adalah hattrick Juara La Liga, juga masing dua kali gelar Juara Liga Champions dan dua kali Piala Dunia Antarklub FIFA.

Bersama tiki taka, Barcelona menjadi sebuah tim sepakbola yang terlalu hegemonik bagi tim lain manapun. Hegemoni mereka yang luar biasa itu bisa anda lihat dari statistik setiap pertandingan yang mereka jalani. Anda pasti akan menemukan bagaimana jumlah umpan, total persentase penguasaan bola, jumlah tendangan ke arah gawang, juga peluang gol yang dipunyai Barcelona pasti mengungguli lawannya. Itu berlaku baik di level domestik Spanyol, juga di level Eropa, hingga ke level antarklub dunia.

Contoh terbaik hegemoni luar biasa Barcelona bisa anda temukan dalam rekor head to head tim Catalan ini melawan rival bebuyutan mereka, Real Madrid, mulai dari musim 2008/2009. Sejak ditukangi Pep Guardiola, skuad Blaugrana memang jauh lebih superior ketimbang Los Blancos. Sejak musim 2008/2009, dua raksasa Spanyol ini telah berduel sebanyak 14 kali di berbagai kompetisi, mulai dari La Liga, Copa Del Rey, Piala Super Spanyol, juga Liga Champions Eropa. Dari semua pertemuan itu, Real Madrid cuma berhasil mencuri satu kemenangan yakni dalam partai final Copa Del Rey 2010/2011. Itu lho yang pialanya malah dijatuhkan secara teledor oleh Sergio Ramos dari atas, sampai akhirnya remuk terlindas ban. Lalu, Barcelona dan Madrid bermain draw sebanyak empat kali. Selebihnya, Barcelona mengalahkan Madrid sebanyak delapan kali. Malah, Barca pernah pula memermalukan Madrid di hadapan para Madridista dengan skor besar lagi mencolok, dengan skor 2-6, dalam partai La Liga di Santiago Bernabeu pada 2 Mei 2009. Lalu, pada 29 November 2010, Barcelona kembali  memberondong gawang Madrid dengan lima gol tanpa balas dalam pertandingan La Liga di Camp Nou. Oh ya, dari 14 duel dari musim 2008/2009 tadi, Barcelona menjebol gawang Madrid sebanyak 32 kali alias lebih dari dua gol per pertemuan. sedangkan Madrid hanya berhasil menjebol gawang Barcelona sebanyak 13 kali. Dengan demikian, Barcelona unggul hingga 21 gol dibanding Real Madrid.

Pada medio April 2012 ini, ketika Liga Primera Spanyol musim 2011/2012 telah merampungkan 33 dari 38 putaran pertandingannya, Madrid sejauh ini memang mengungguli Barcelona dalam posisi klasemen sementara. Los Blancos merupakan pemuncak klasemen sementara dengan raihan poin 85, Azulgrana masih tercecer dengan raihan poin sementara empat poin lebih sedikit sehingga cuma berada di urutan kedua. Hanya saja, kalaupun Madrid akhirnya sungguh merengkuh Juara La Liga Spanyol di akhir musim ini, menurut saya hal itu belum akan benar-benar menghilangkan pesona tiki taka ala Barcelona. Besar kemungkinan musim ini bakal sekadar menjadi jeda sejenak bagi si trending topic. Raihan juara Madrid itu nanti sama sekali tak berarti bahwa era dominasi Barcelona telah tamat sekali. Maka, hal tersebut akan pula jadi semacam catatan kaki, berisi kekuranglegaan orang, sekaligus kecenderungan melihat raihan juara Madrid itu nanti belum sungguh-sungguh sempurna.

Lalu seperti apa seharusnya raihan prestasi Madrid nanti, sehingga bisa dibilang sempurna, sehingga benar-benar melegakan orang? Menurut saya itu harus disertai tindakan yang menandai bahwa mereka telah benar-benar mampu menumbangkan hegemoni Barca. Wujudnya mesti sebuah pertandingan yang berisi "pertunjukan" dominasi para pemain Madrid pada sebagian besar waktu 90 menit, atau paling tidak dalam durasi waktu yang cukup panjang untu dilihat. Pertunjukan itu adalah pertunjukan para pemain Madrid yang mendikte para pemain Barca, sesuatu yang telah absen terlihat dalam 14 kali duel El Clasico terakhir. Syukur lagi kalau Madrid lantas bisa menaklukkan Barca dengan skor besar.

Pokoknya, itu bukan jenis pertandingan yang diwarnai ribut ribut soal perdebatan sah tidaknya putusan wasit, juga berisi saling tuduh dan bantah dalam soal diving versus pelanggaran keras, sebagaimana selalu muncul pada beberapa dari El Clasico akhir-akhir ini. Itu sebaiknya bukan pula jenis pertandingan yang dimenangi lewat keberuntungan, maaf keberhasilan, mencuri gol sebagaimana terjadi pada final Copa Del Rey tahun lalu.

Itu juga semestinya pertandingan berisi permainan yang lebih elegan lagi lebih positif ketimbang yang pernah diperagakan Inter Milan pada leg I semifinal Liga Champions 2009/2010. Biarpun Inter dalam pertandingan itu berhasil menjungkalkan Barcelona dengan skor 3-1, sayangnya sampai sekarang sukses mereka tersebut beroleh catatan kaki bernada minus, yakni sebagai pertandingan yang diwarnai taktik parkir truk ala La Beneamata.   

Meraih pion tiga secara meyakinkan dalam duel El Clasico Liga Spanyol pada 21 April nanti adalah kans atau lebih tepatnya kewajiban bagi Madrid mewujudkan kemenangan paripurna atas Barcelona tadi. Selain itu, ada pula kemungkinan dua musuh bebuyan itu bakal pertemu lagi di final Liga Champions nanti, yakni jika Barca tak sampai terganjal oleh Chelsea, lalu Madrid pun sukses melewati Bayern Muenchen. Hanya saja, itu pastilah satu yang kenyataannya sangat merepotkan. Barca sebagai sebuah tim yang sedang berstatus superteam nyatanya memang punya kesaktian lebih, pula seakan punya nyawa rangkap. Lihat saja,Barca pada Maret lalu masih tertinggal 10 poin dari Madrid, sekarang defisit poin mereka dari Madrid sudah separo lebih sedikit. Jadi, mampukah Madrid menuntaskan tantangan semacam ini, yang jika merujuk kepada statistik hasil 14 El Clasico terakhir sepertinya pantas disebut Mission Impossible, lebih lagi ketika lokasi laga adalah di Camp Nou, markas Barcelona? Hmmm, soal itu sepertinya bukan saya yang harus memastikannya. Itu tugas entrenador Jose Mourinho dan para anak asuhnya.

Oh ya, apa yang saya tuturkan tadi ternyata terlalu menyesakkan dada para Madridistas? Boleh jadi ya... Tapi, itulah kenyataannya. Lagi pula, para fans Madrid sepertinya tak perlu berkecil hati. Ingatlah, bukan cuma Madrid satu-satunya klub yang dalam empat tahun terakhir ini punya catatan buruk perihal duel melawan Barcelona. Manchester United, Chelsea, AC Milan, apa lagi Bayer Leverkusen punya rekor pertemuan yang tak bisa dibilang lebih baik. Padahal, klub-klub itu secara materi pemain tak juga bisa dibilang jelek. Klub lain yang tergolong punya rekor pertemuan versus Barca agaknya cuma Inter Milan dan Arsenal.

Barcelona yang diasuh Guardiola saat ini rasanya sudah menjadi hantu pula bagi klub-klub lain di seantero Eropa dan bahkan sedunia. Beberapa hari lalu, saya dan seorang teman sekantor pernah mengobrol tentang Barcelona. Teman saya yang seorang Manchunian itu serta saya kami kemudian sepakat satu hal. Dalam empat tahun terakhir ini ternyata kami sama-sama tak pernah melihat Barcelona sampai benar-benar keteteran dalam sebuah pertandingan. Mereka selalu mendominasi setiap pertandingan yang mereka jalani, termasuk pada pertandingan ketika mereka kalah sekalipun. Barca selalu cuma kalah karena lawannya berhasil mendadak mencuri gol, bukan karena lawan memang berhasil mendikte permainan Barca. Ini ada dua video yang menunjukkan bagaimana Barcelona selalu mendominasi lawan-lawan mereka dalam setiap pertandingan:




Dunia sepertinya sudah sekitar 20 tahun lamanya tak melihat tim berkategori adidaya sebagaimana Barcelona saat ini. Tim yang terakhir sebelumnya yang tergolong adidaya, yang membuat tim-tim lain kelimpungan ketika bertemu, termasuk tim besar sekalipun, adalah AC Milan era Arrigo Sacchi dan Fabio Capello, pada akhir 1980-an hingga medio 1990-an. Dalam 20 tahun terakhir ini, tentu  ada tim-tim hebat lainnya. Itu dari mulai Ajax Amsterdam 1994/1995, Manchester United medio 1990-an hingga awal 2000-an, Bayern Muenchen akhir 1990-an dan awal 2000-an, Juventus 1994-1998, Real Madrid akhir 1990an maupun Real Madrid era Galacticos I awal 2000-an, AC Milan 2002-2005, juga Inter Milan era allenatore Roberto Mancini dan Jose Mourinho. Namun, tim-tim hebat itu masihlah tim-tim yang lebih membumi, atau dengan kata lain tim-tim yang masih tak terlalu susah dicari sisi lemahnya. Kadang-kadang, tim-tim hebat itu bisa juga keteteran atau bahkan kalah secara konyol dalam satu-dua-tiga pertandingan tertentu. 

Namun, Barcelona kini sungguh tim yang seperti tak punya kelemahan. Mereka bermain dalam level yang bisa dibilang nyaris nyaris nyaris sempurna. Barcelona sudah pantas pula disebut tiran sepakbola Eropa dan dunia. Itu sebab persaingan tim di dalam kompetisi seperti Liga Champions maupun turnamen seperti Piala Dunia Antarklub jadi tak secair, seseimbang, dan semenarik sebelum tahun 2008. Kompetisi dan turnamen itu sekarang jadi seperti ada cuma untuk menjadi panggung tempat Barcelona menang dan menang lagi. Semua tim yang mesti melawannya bisa dibilang tak berkutik, tertekan sepanjang pertandingan, juga nyaris tak bisa keluar dari separo lapangan bagiannya.

Bagi penggemar klub-klub lain, tiki taka ala Barcelona yang mengagumkan itu sudah berubah jadi sebuah permainan yang menyebalkan. Bagaimana tidak, kala tim favorit mereka mesti berhadapan dengan Barcelona, maka harapan tim favorit mereka untuk menang jadi nyaris nol. Dalam hati para non Cules yang tim jagoannya mesti berduel dengan Barca pun lantas muncul tanya 'kalah dengan skor berapa ya?' atau harapan minimalis 'oke, seri saja sudah bagus'. Coba apa nggak nyebelin kayak gini ini?

Namun , saya sebagai bagian kaum non Cules tetap mencoba tak kehilangan harapan. Jika era hegemoni Barca saat ini bisa disebut sebagai periode agoni, maka saya mencoba meyakini kata-kata let time to heal. Ya, bukankah era hegemoni sebuah klub biasanya tetap memiki limit waktu, entah lima tahun, entah sepuluh tahun, tapi pokoknya memiliki akhir. Itu bisa terjadi karena cedera berat yang dialami satu atau beberapa punggawa pentingnya. Bisa juga terjadi ketika punggawa pentingnya mulai menurun permainannya seiring bertambahnya usia ataupun sang pelatih sebagai sebagai arsitek kesuksesan pergi. Jadi, bagi klub-klub lain pesaing Barca bisalah sedikit menghibur diri dengan berkata 'Pep, Xavi, dan Iniesta tak akan selamanya ada di Barcelona.

Jika tiki taka Barcelona selama ini dipandang banyak orang sebagai bentuk permainan yang begitu tipis jaraknya dari kategori sempurna, maka saya berusaha mengimani kata-kata bahwa tiada gading yang tak retak. Yah, setiap hal pasti punya titik lemahnya, termasuk tiki-taka-nya Barcelona. Pada akhirnya, cepat atau lambat akan ada seorang pelatih atau tim yang bakal menemukan cara mujarab untuk memandulkan kedigdayaan tiki taka Barcelona. Dulu, dunia pun pernah melihat tim-tim pernah terlihat begitu sempurna pada zamannya, seakan tak terkalahkan. Sebut saja dalam hal ini adalah Real Madrid maupun Santos di era medio 1960-an, Ajaz Amsterdam dan Bayern Muenchen awal dan pertengahan 1970-an, juga Sao Paulo era Tele Santana pada awal hingga pertengahan 1990-an.  Namun pada akhirnya datang orang-orang dan tim yang menemukan antitesis dari tim-tim yang pernah dianggap sempurna itu.

Saya sendiri punya sedikit bayangan tentang seperti apa permainan yang bakal menjadi antisesis bagi tiki taka ala Barca. Menurut saya, itu dapat berkaitan dengan tiga nama: Zinedine Zidane, Andrea Pirlo, serta David Beckham. Namun, biarlah saya menceritakan tentang permainan antitesis tiki taka ala Barca itu pada tulisan selanjutnya... . (BERSAMBUNG KE BAGIAN II)


Artikel Berkaitan

2 komentar:

  1. Mas, mana nih bagian 2 Nya?

    BalasHapus
  2. hmmm, sptinya harus nunggu selesai euro 2012, liat dulu langkahnya spanyol sperti apa, juga ktika skuad baru barca di bawah tito villanova mule persiapan...soalnya aku terus terang waktu nulis ini nggak nyangka pep lalu milih mundur...

    BalasHapus