Rabu, 07 Maret 2012

Risiko Mengimani Sepakbola Menyerang

Oleh Yoseph Kelik


ARSENAL versus AC Milan (foto diambil dari ojelhtc.blogspot.com)


SEMUA akan baik-baik saja. Malah, sepertinya akan ada hasil yang melampui harapan. Demikianlah pikir saya, sebagai seorang Milanisti, terhadap laga leg 2 babak perdelapan final Liga Champions Eropa antara Arsenal versul AC Milan pada Rabu, 7 Maret 2012 dini hari ini.

Pikiran semacam itu tadi terus terang ada di kepala saya dalam sekitar tiga pekan terakhir, sejak I Rossoneri menaklukkan The Gunners secara mengejutkan sampai 4-0 dalam pertandingan leg 1, pada 17 Februari lalu di Stadion San Siro. Dengan deposit empat gol di tangan, saya berpikir bahwa pertandingan leg 2 di Stadion Emirates akan berjalan cukup mudah bagi Milan, atau malah cenderung menjadi formalitas.

Karena itu, saya menjalani hari-hari di antara leg 1 dan leg 2 dengan teramat tenang. Rasa ayem itu terus bertahan hingga hari H pertandingan leg 2. Ketika kantuk mulai terasa memberati mata pada peralihan tanggal 6  ke tanggal 7 Maret, saya yang baru saja menjalani jatah piket malam di kantor lantas menjejerkan empat kursi kerja jadi satu. Tanpa ada beban, saya pun membaringkan diri di atasnya, memilih tidur saja, tak menunggu siaran langsung pertandingan Arsenal versus Milan.

Di kepala saya ada serangkaian pikiran yang membuat saya dengan tenang lantas memilih tidur. Serangkaian pikiran itu dapat dirangkum dalam satu kalimat yakni semua akan baik-baik saja:
Arsenal tak akan bakal mampu mengejar defisit empat gol... 
Kalaupun Arsenal mengalahkan Milan di leg 2 ini, mereka cuma akan menang dengan skor tipis... 
Milan akan berhasil mencuri gol di Emirates...
Milan bahkan bisa jadi akan kembali menang di kandang lawan...
Yang jelas, saya cukup yakin bahwa nanti ketika bangun akan mendengar kabar gembira: Milan lolos ke babak perempat final.

Nyatanya, saya bangun dan tidak langsung mendapati kabar gembira. Sekitar dua jam setelah tidur, saya akhirnya melek. Saya terbangun gara-gara suara riuh yang datang dari enam orang kawan sekantor saya. Mereka itu sedan menonton siaran langsung duel Arsenal versus Milan. Segera saja saya merasakan ketidakberesan. Itu terjadi ketika mata saya yang masih sedikit kabur melihat tayangan ulang di skrin tivi, saat seorang pemain berkostum merah kombinasi putih khas Arsenal menceploskan gol ke gawang yang dijaga kiper berkepala botak, yang artinya adalah kiper utama AC Milan, Christian Abbiati.

Wah, Milan kebobolan nih... .Begitulah batin saya ketika itu. Namun, seiring pandangan mata yang kian menjelas karena kesadaran yang mulai mengumpul penuh, saya pun merasakan menguatnya aroma ketidakberesan. Pasalnya, sepasang mata saya mulai menangkap sekian informasi yang tersaji di layar tivi, yang menujukkan bahwa pencipta gol Arsenal ketika saya terbangun tadi adalah Tomas Rosicky, lalu memberitahukan pula bahwa Arsenal ternyata berhasil memimpin 2-0 karena sebelumnya gawang Milan dibobol pula lebih dahulu oleh Laurent Koscielny. Sialnya, pertandingan ternyata baru berlangsung selama 26 menit. Aduuuh. Batin saya mulai diliputi kecemasan.

Saya mulai meninggalkan kursi-kursi tempat saya berbaring. Saya mendekat ke teman-teman yang mengumpul di depan televisi, turut bergabung menonton. Di sana, saya ternyata kian dibuat dagdigdug. Say melihat para pemain Milan bermain nervous. Tak bisa tidak saya pun terseret menjadi nervous. Saya tahu harapan awal saya bahwa segalanya akan berjalan baik-baik saja telah buyar. Segalanya kian parah, pula kian membuat saya nervous ketika antisipasi yang gugup lagi telat pada menit 43 dari gelandang Antonio Nocerino dan bek kiri Djamel Mesbah, atas tusuan yang dilakukan pemain Arsenal, Oxlade Chamberlain, justru berbuah hukuman penalti. Robin van Persie yang bertindak sebagai eksukotor melakukan pekerjaannya secara sempurna. Tendangan menjebol sisi kiri gawang Milan ketika Abbiati justri melompat ke arah kanan. Ya, saya tahu saya tak bisa berharap banyak Abbiati dapat membendung eksekusi RvP. Abbiati tak punya reputasi sebagai penahan tendangan penalti yang jempolan.

Yang pasti, keadaan memburuk. Milan kini tertinggal tiga gol ketika babak pertama pun belum lagi kelar. Saya mulai merasakan gentayangannya hantu dari Stadion Riazor tahun 2004, juga hantu partai final Liga Champions Eropa di Istanbul tahun 2005. Itu artinya babak kedua dan 45 menitnya besar kemungkinan dapat menjadi neraka lain bagi Milan. Sebab, Arsenal tentu akan terus termotivasi memerbesar keunggulan mereka. Bisa jadi di babak II, Arsenal akan mencetak satu gol tambahan lagi.

Syukurlah, segalanya berjalan lebih baik untuk Milan sepanjang babak 2. Saya pikir seharusnya Milan memang bermain sedari awal sebagaimana permainan mereka di babak 2. Meski terkadang masih sport jantung, tak ada gol dari Arsenal lagi datang di baba 2. Mari para Milanisti, berterima kasihlah bahwa ada Abbiati di bawah mistar gawang. Tanpa dia segalanya pasti akan lebih kacau, sebagaimana yang dikehendaki Arsenal. Tiga gol yang membobol gawang Abbiati sdo babak 1 sungguh tak benar-benar bisa disalahkan kepadanya. Contohnya untuk gol Rosicky, ah tak bisa disangkal itu jelas blunder bek tengah Thiago Silva.

Masuk Stadion Emirates dengan 3 penyerang saya sadari kemudian  bukan ide bagus. Allegri sepertinya sempat mencoba mengulang apa yang berlangsung di San Siro pada 17 Februari, atau paling tidak dia berharap mencuri satu gol dengan cepat. Dia tentu saja bermasuk membuat Arsenal makin nervous dalam upaya mengejar defisit gol.

Formasi 4-3-3 yang coba dipraktikkan Milan memang hampir sukses mengulang pesta 4 gol di San Siro 17 Februari 2012 lalu. Hanya saja kali ini Arsenal lah yang sukses mengacak-acak Milan, bukan sebaliknya. Cara berpikir Allegri rupanya tertebak oleh Wenger. Ya, kenapa tak bisa tertebak? Wenger yang berjuluk Profesor bagaimanapun lebih berpengalaman ketimbang Allegri. Pilihan Allegri untuk benar-benar bermain terbuka sungguh justru membuka kesempatan bagi Wenger, untuk menerapkan skema permainan pengejar defisit 4 gol yang di rancangnya. Arsenal memang sungguh bermain luar biasa. Mereka memang sungguh gudang peluru yang punya banyak amunisi untuk diberondongkan ke musuhnya.

Saya sungguh berpikir akan lebih bijak jika malam tadi sedari awal Milan turun dalam formasi 4-4-2 atau 4-3-1-2 saja. Melihat masing-masing pemain Milan yang bermain dalam laga di Emirates, jika saya punya akses memberi nasehat kepada Allegri, dan andainya si Mister Max itu mau mendengarnya, saya akan lebih senang menurunkan Aquilani sebagai gelandang keempat ketimbang menurunkan Robinho di posisi gelandang sayap kanan. Sungguh saya sering mendapati Robinho seolah hilang selama pertandingan tadi. Dalam laga 17 Februari lalu, Robinho memang mencetak dua gol. Namun, pada laga di Emirates tadi, Robinho kembali ke versi aslinya: pemain yang selalu terlalu lawa menggiring bola, juga butuh membuang 10 peluang sebelum akhirnya mencetak 1 gol. Bah... Andainya Milan turun dalam formasi 4-4-2 atau 4-3-1-2, mungkin malah bisa mencuri satu gol dalam permainan yang lebih stabil.

Pada akhirnya, saya bersyukur Milan masih bisa lolos ke babak perempat final, meski hampir berbuat konyol, mengulang kebodohan yang pernah terjadi di Coruna pada 2004 dan Istanbul 2005. Semoga kejadian semalam tak perlu diulangi dalam laga-laga lain. Namun, apa yang terjadi kepada Milan tadi, kalah 0-3, juga terjadi kepada Arsenal kalah 0-4 pada 17 Februari, merupakan risiko karena keduanya mengimani sepakbola menyerang, yang terkadang memberi kemenangan besar, tapi terkadang memberi juga kekalahan besar.


Artikel Berkaitan
Ancelotti dan Hasil-Hasil Dramatik

Tidak ada komentar:

Posting Komentar