Jumat, 14 Desember 2012

Toko Kopi Ahok: Tempat Menemukan Semangat Pagi di Pojok Simpang Jelutung

Oleh Yoseph Kelik

TOKO Kopi Ahok di Simpang Jelutung, Kota Jambi (foto oleh Hanif Burhani)
SARAPAN yang menyenangkan konon dapat menjadi awal bagi hari yang menyenangkan pula. Sepiring menu dengan isi sedang, cukup bisa mengganjal perut, tapi juga tak sampai bikin kekenyangan, serta secangkir kopi susu hangat, boleh jadi adalah contoh kombinasi menu yang pas.

Di antara sekian tempat makan penyedia sarapan di Kota Jambi, Toko Kopi Ahok di pojok Simpang Empat Jelutung boleh jadi spot oke untuk menemukan pilihan menu semacam itu. Untuk menu utama sarapan, sepiring mie celor di sana jadi contoh menu yang saya rekomendasikan. Kuahnya kental segar dan tentu saja gurih. Potongan daging dipotong dadu yang ditaburkan di atas gundukan mienya pun menurut saya sedikit lebih besar ketimbang di beberapa menu serupa di tempat makan yang lain.


Mie celor itu lah yang menjadi pilihan saya ketika menikmati sarapan di sana pada Jumat pagi, 30 November 2012.
MIE celor di Toko Kopi Ahok, Simpang Jelutung (foto oleh Hanif Burhani)
Bagi yang mencari menu selain mie celor, pilihan pun tetap ada. Nasi gemuk, lontong, soto, gado-gado, juga roti bakar adalah alternatifnya. Banderol harga untuk aneka hidangan tadi ada di kisaran Rp Rp 7 ribu sampai dengan Rp 15 ribu per porsinya. Selain itu, masih ada pula beberapa kue kecil sebagai kudapan antara lain kue lapis dan sarang semut.  

Kopi Susu Enak
Hanya saja jangan pula lewatkan segelas kopi susu racikan warung makan ini. Ketika hadir diantar ke meja oleh pelayan warung, segelas minuman itu sudah memberi menjadi satu suguhan menarik bagi mata. Tentu saja padanya tiada latte art seperti halnya yang biasa menghiasi cappuccino atau aneka kopi modern bikinan kafe-kafe. Hanya saja, kopi susu tradisional ala Toko Kopi Ahok punya definis cantik tersendiri. Ketika datang, dia belum lagi diaduk, membiarkan cairan susu kental manis di seperlima bagian dasar serta kopi hitam di atasnya tak langsung berbaur, lalu justru jadi sedikit mengingatkan kepada warna pada kue lapis.
KOPI susu ala Toko Kopi Ahok (foto oleh Hanif Burhani)
Ketika tangan akhirnya mengaduknya, si kopi susu ganti membuktikan diri sebagai suguhan enak untuk lidah. Ketika menyeruputnya, terasa memang bagaimana manis dari susu dan pahit dari kopi berpadu dengan tepat, bikin pikiran jadi segar, dan semangat pun datang.

Soal enaknya kopi susu di warung makan dengan bangunan masih sepenuhnya terbuat dari kayu tersebut bukan cuma saya yang merasakannya. Seorang pengunjung bernama Hans berbagi pula komentar yang menegaskan penilaian saya. Kata karyawan swasta itu, ia memiliki seorang paman yang biarpun sudah puluhan tahun tinggal di Surabaya, tetapi ketika mudik ke Jambi pasti menyempatkan diri menyeruput kopi di Toko Kopi Ahok. Sebab, kata sang paman itu, kopi susu warung satu ini memang sangat enak.

KOPI susu dan camilan di Toko Kopi Ahok (foto oleh Hanif Burhani)
"Malah kalau mau pulang ke Surabaya pasti beli dulu kopi susu satu termos di Toko Kopi Ahok. Itu untuk dibawa pulang ke Surabaya," kata Hans.

Kopi susu bukan satu-satunya pilihan minuman di warung yang buka mulai pukul 06.00 sampai dengan sore hari itu. Pilihan minuman lain terdiri dari kopi, teh susu hingga sejumlah minuman ringan kaleng. Banderol harga untuk minuman di sana ada di kisaran Rp 7 ribu sampai dengan Rp 10 ribu.

Sejak 1947
Ahok sang pemilik Toko Kopi Ahok di Simpang Jelutung berbagi cerita kepada saya pada Jumat, 30 November siang tentang sejarah warungnya. Menurut pria ini, usaha tersebut didirikan mendiang orangtuanya sejak 1947. Namun, kala itu, lokasi awal warung masih ada di kawasan Pasar.

Toko kopi baru beralih ke daerah Jelutung pada awal 1950-an. Perpindahan itu dipicu pula oleh kejadian kebakaran yang kala itu terjadi di Kawasan Pasar. Awal berdiri di Jelutung, warung sekadar berbentuk pondok sederhana ala kadarnya. Jangan bayangkan pula bahwa daerah Jelutung kala itu sudah jadi satu daerah ramai seperti sekarang. Jelutung kala itu sekadar satu daerah di tepi kota Jambi yang juga masih berukuran sangat kecil.

SUASANA pagi di Toko Kopi Ahok, Simpang Jelutung (foto oleh Hanif Burhani)
"Tempat ini dulu masih sangat sepi. Jelutung waktu itu mungkin masih seperti daerah Petaling sekarang," kata Ahok.

Sambungnya, pada 1952, warung ganti menempati satu bagian di antara deretan ruko yang dibangun di daerah Simpang Jelutung. Orangtua Ahok mengangsur pembelian ruko itu sampai akhinya baru lunas pada sekitar 1960. Waktu itu toko kopi ini masih menyandang nama "Kampung Dua Sekawan".

Toko kopi ini tak langsung pula menjadi tempat makan dan minum yang ramai seperti sekarang. Seingat Ahok, ramainya toko kopi ini baru mulai terjadi sejak 1986. Itu terjadi seiring perpindahan Balai Kota dan kantor-kantor pemerintahan Kota Jambi dari daerah Pasar ke Kotabaru. Seiring itu, warung yang awalnya sekadar melayani para buruh gudang dan pabrik karet seputar Jelutung lantas jadi tempat jujugan para pegawai kantor pemerintahan.
<<<+>>> 





CATATAN:
Tulisan sebelumnya dimuat di halaman 15 Harian Pagi Tribun Jambi pada Minggu, 2 Desember 2012. Untuk versi pemuatan di blog pribadi ini ada sejumlah pengeditan kecil.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar